Wamenkumham Bongkar Kebusukan Penyidik KPK, Novel Baswedan Tertampar   

0
544
Wakil Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia, Prof Dr Edward Omar Sharif Hiariej, SH, M.Hum.
Jakarta, NAWACITAPOST – Tiga penggiat media sosial ; Ade Armando, Denny Siregar  dan Eko Kuntadhi di Cokro TV dalam waktu yang berbeda, pernah mengungkapkan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) itu atas perintah Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019, dalam alih status pegawai KPK sebagai ASN. Sehinga tak perlu dipersoalkan.
PERSOALAN menjadi ramai dan gemuruh yang tak perlu, karena ada dua pegawai KPK yang tak lulus TWK; Novel Baswedan dan Yudi Purnomo dan 73 pegawai lainnya. Sementara yang lulus TWK 1287 pegawai.
Sebenarnya TWK merupakan kewajiban bagi setiap pegawai yang menjadi ASN menjalankan agenda politik pemerintahan. Menurut pengacara kondang Petrus Selestinus, agenda politik pemerintahan, yaitu kesetiaan terhadap ideologi negara (Pancasila), UUD 1945 dan NKRI, serta Bhineka Tunggal Ika.
Maklum yang selalu merongrong dan melenceng dari agenda politik pemerintahan itu wadah pegawai KPK (jumlahnya sedikit) dengan komandan gengnya Novel Baswedan dan Yudi Purnomo serta dorongan utama dari mantan penasehat KPK Abudllah Hehamahua. Menurut Denny Siregar,  wadah ini, ditengarai dan diduga sebagai sarang Taliban. Pahamnya selalu melenceng dari haluan dan idelogi negara. Target tebang pilih dan terima order diduga kian terjadi di bawah dua penyidik KPK Novel dan Yudi.
Hal itu membuat geram dan kesal Wakil Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia, Prof Dr Edward Omar Sharif Hiariej, SH, M.Hum kepada penyidik KPK dan komisioner terdahulu.
Dalam sebuah tayangan video. Guru Besar Hukum Pidana UGM itu mengungkapkan para hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) lebih takut kepada penyidik KPK dibanding menegakkan kebenaran dan keadilan.
Suka menelpon, teror  dan intimidasi kerap dilakukan pimpinan KPK kepad apara hakim Tipikor. Bahkan Edwar berani membeberkan siapa-siapa Komisioner KPK itu.
Pernyataan Wakil Menteri Hukum dan Ham ini menjadi catatan buruk buat KPK, terutama penyidik dan komisioner terdahulu. Mereka itu begitu getol dan merasa dizolimi atau dikriminalisasi. Padahal tidak terjadi seperti itu.
Kini ketua geng Taliban, Novel dan Yudi tak lulus TWK. Seharusnya mereka dua ini jangan lagi bercokol di KPK. Budaya malu  harus dikedepankan, karena tak lulus itu. Jika, Novel memaksakan bekerja sebagai penyidik di KPK itu artinya tak tahu diri, ibaratnya menampar muka sendiri.