Ade Armando : Amien Rais, Riezieq Shihab, dan Din Syamsuddin Bertanggungjawab Atas Terorisme (Bag. 1) 

0
264
Ade Armando. foto tangkapan layar Chanel Youtube Cokro TV

Jakarta, NAWACITAPOST –  Dalam canhel Youtube Cokro TV bertagline Logika Ade Armando,  Senin 29 Maret 21021. Ade Armando sang narator dalam chanel youtube tersebut mengurai secara jelas terukur dan penuh dengan untaian kata yang bermakna. Berikut pendapat dari pria berdarah Minang yang juga pengamat Komunikasi Politik UI.

Baca Juga : Aksi Bom Bunuh Diri Di Katedral Makasar Diduga Jaringan JAD Berafiliasi ISIS, Berikut Pola Kerjanya

KITA HARUS  berhenti mencari-cari alasan, untuk membantah bahwa tidak ada hubungan antara Islam dengan aksi bom bunuh diri di Makassar hubunganya terang benderang. Tentu saja, tidak ada ajaran dalam Islam berisi  perintah  untuk melakuka aksi teror, apalagi teror bunuh diri, tapi dalam Islam ada perintah untuk memerangi kaum kafir,  musuh-musuh Islam.

Ade Armando. foto tangkapan layar Chanel Youtube Cokro TV

Ada banyak ayat  Alquran dalam Hadist yang menyatakan bahwa umat Islam  seharusnya tidak berdiam diri ketika menyaksikan  kezaliman musuh-musuh Allah memerangi musuh Allah  adalah kewajiban. Bahkan Islam mengajarkan umat untuk tidak ragu berjuang dengan  mengorbankan nyawa karena para pejuang Islam itu akan masuk surga, ketika mati di jalan Allah Dan disitulah akar persoalannya.

Pelaku bom bunuh diri percaya bahwa mereka , sedang menjalankan misi suci, menegakan perintah Allah, para pelaku bom bunuh diri itu tidak melihat  tindakannya sebagai aksi bunuh diri, mereka tahu  bahwa bunuh diri itu haram, jadi kalau mereka melakukannya mereka mempersepsikan diri mereka, sebagai yang sedang  berperang melawan musuh Allah.

Ketika mereka meledakan bom ditubuhnya, yang ada di kepala mereka bukanlah apa  yang akan terjadi, pada orang-orang yang seharusnya juga mati gara-gara bom mereka, aksi bom mereka persepsikan sebagai aksi heroik, menantang peluru lawan.

Buat mereka ini sama saja dengan para pejuang yang hanya bersenjatakan senapan lokal menghadapi tank-tank  modern, yang setiap saat bisa meluluhlantahkan mereka, mereka tahu akan mati tapi yang terpenting kematian mereka  akan menyumbang bagi kemenangan yang mereka perjuangkan.

Bagi mereka, para jemaat gereja  yang jadi target sasaran adalah kekuatan bagi para zalim yang harus mereka habisi membunuhi jemaat gereja, akan membawa mereka ke surga memahami mengapa mereka merasa harus mati?  Apa medan peperangan yang mereka bayangkan? Bahwa mereka berada didalamnya? Dan ini semua adalah soal image, soal persepsi.