Tak Bisa Beragumen Hukum, Munarman Hanya Bisa Bentak dan Mengerahkan Massa Di Persidangan Rizieq 

0
234

Jakarta, NAWACITAPOST –  Tipikal provokatif bernada keras nampaknya sengaja dilakukan kelompok FPI yang dibubarkan Pemerintah. Sepertinya kekerasan yang dilakukan Rizieq Shihab, Munarman pun melakukannya. Memakai jubah pengacara, Munarman berteriak lantang kepada jaksa untuk diam berbicara. Padahal maksud jaksa hanya berbicara sesuai dengan apa yang disampaikan Munarman. Itu terjadi dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur, yang menyidangkan tersangka Rizieq Shihab, Rabu (24/3/2021).

Baca Juga : Pengakuan Eks FPI : Munarman Hadir Saat Anggota FPI Dibait ISIS

 

Kalah Debat, Munarman Siram Air Ke Tamrin Tamagola (Pengamat Sosial) di acara TV One beberapa tahun lalu

Jika ditelusuri berdasarkan rekam jejak dari Munarman. Saat talk show di acara TV One, di tengah debat, ia begitu mudahnya menyiram air ke muka pegamat sosial Tamrin Tamagola.  Pasca tewasnya 6 FPI di Tol  Cikampek. Munarman seakan berada digaris depan membela dengan membabi buta.

Baca Juga : 19 dari 26 Tersangka Teroris adalah FPI, Petinggi Pusat Diduga Terlibat

Yang bisa dilakukannya hanya menyalahkan pemerintah ; aparat penegak hukum, terutama polisi. Segala cara dilakukannya. Tanpa konfirmasi atau kroscek, gestur tubuhnya berupa telunjuk tangan dan sorot matanya menatap tajam kepada aparat penegak hukum.

Terkait bentakan Munarman ke Jaksa di persidangan Pengadilan  Negeri Jakarta Timur, Rabu (24/3/2021). Ketua Komisi Kejaksaan (Komjak) Barita Simanjuntak mengingatkan soal marwah persidangan itu sudah diatur sesuai ketentuan dalam KUHAP. Tata cara mekanisme persidangan harus dihormati dan dihargai sebagai wujud penghormatan kepada marwah negara hukum,” kata Ketua Komjak.

Seperti dilansir detik.com, Barita menekankan bahwa perdebatan dalam persidangan sah dan boleh dilakukan. Namun dia menekankan perdebatan itu tetap harus berdasarkan etika dan sopan santun di dalam persidangan.

“Etika, sopan santun tata krama dan prosedur di semua proses pemeriksaan pengadilan sudah ada dasar hukum sebagai pedomannya dan mengikat semua, jadi perbedaan pendapat, dialog menyangkut mekanisme dan lain-lain, dalam persidangan boleh-boleh saja dan diselesaikan dimusyawarahkan di ruang pengadilan secara bebas dan prinsip saling menghargai dan dipertimbangkan serta diputus oleh hakim,” tegasnya.

Mungkin bagi Munarman, dalil dan argumen hukum sudah menjadi bendera putih alias menyerah.   Namun ada cara diluar hukum dengan kekerasan melekat,  serta jumlah massa banyak untuk dikerahkan dalam unjuk rasa bisa mengalahkan keputusan hakim.