Waspada Keamanan Indonesia Terancam!  Kepulauan Nias Pintu Masuk Teroris dan Narkoba? 

0
1840
Mantan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Drs. Christian Zebua, M.M. foto ; media mimbarbangsa.

Jakarta, NAWACITAPOST – Azahari dan Noordin Moch Top  adalah dua dari berbagai teroris yang melaksanakan aksinya di Indonesia berhasil dilumpuhkan Polisi. Keduanya ditembak mati pada 2005 (Azahari) dan Noordin M Top (2009), karena sengaja melakukan perlawanan terhadap aparat keamanan.  Pertanyaan selanjutnya? Apakah kematian teroris itu menyebakan aksi teror berhenti? Jawabnya, diam dan menyusun kekuatan tetap dilaksanakan para teroris.

Baca Juga : Kepulauan Nias Sarang Teroris? Dua Wilayah Ini Diduga Kuat Jadi Tempat Latihannya

Terkait  menyusun kekuatan.  Kiranya pendapat  Al Chaidar, pengamat teroris yang juga mantan teroris perlu menjadi perhatian kita semua. Al Chaidar menyebut  pintu masuk teroris ke Indonesia salah satunya di wilayah Sumatera, Sumatera Barat (Sumbar) yang dijadikan tempat latihan teroris, ada sekitar 3000 anggota Jamaah  Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). Kedua kelompok Jamaah itu jelas-jelas terafliasi dengan ISIS.

Masih kata Al Chaidar, ternyata Kepulauan Nias (Kepni) juga menjadi tempat latihan teroris. Pengamanannya agak longgar dan jauh dari deteksi jangkauan aparat keamanan menjadikan Kepni sebagai salah satu pintu masuk dan keluar teroris, jelas dosen Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh, dalam suatu diskusi tentang teroris pada Agustus 2018.

Baca Juga : Petinggi Polda dan Kodam Bukit Barisan Sumatera Utara Segera Bertindak Selesaikan Darurat Narkoba di Kepulauan Nias

Senada dengan  Al Chaidar, mantan Pangdam Mantan Pangdam XVII/Cenderawasih, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Christian Zebua menyatakan bahwa hal itu  bisa saja benar, karena masih banyak pulau-pulau di Nias yang belum dihuni oleh masyarakat. Ditambah lagi keamanan sangat sulit untuk menjangkau pulau-pulau tersebut karena keterbatasan transportasi dan jumlah personil yang ada di Kepulauan Nias.

Teroris

“Itu mungkin terjadi, itu yang saya katakan bahwa Nias itu ‘Garda Terdepan’ bagian Barat NKRI. Ancaman itu datang ke daerah yang paling lemah dan tidak terjaga. Mereka masuk lewat sana. Mereka gunakan peluang itu untuk sesuatu yang tidak bagus. Bisa dibayangkan kalau sel-sel ancaman itu masuk ke pulau-pulau itu, kita tidak tahu apa yang terjadi di sana. Bisa terjadi di sana ada pelatihan teroris. Sementara kita punya Lanal tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol 103 pulau yang kosong itu,” jelas Christian seperti dilansir media mimbarbangsa.

Baca Juga : Pemerintah Daerah Gagal, Narkoba Merajalela di Kepulauan Nias

Soal Kepni, banyak pulau yang pengamanannya longgar, bisa berbahaya!   Selain para teroris  yang menggunakan pintu masuk ke Indonesia melalui Kepni, maka narkoba juga bisa masuk  ke Indonesia melalui wilayah ini (kepni).

Apalagi,  kondisi geografis kawasan Kepni  seperti terlihat dalam peta NKRI berbatasan langsung dengan negara lain, dan penjagaan keamanannya sangat minim, sehingga memungkinkan dimanfaatkan oleh jaringan narkoba lintas negara untuk memasukan ke Indonesia.

Baca Juga : Pengamat Teroris Al Chaidar : Nias Termasuk Sarang Latihan Teroris, Konflik Horisontal Yang Diinginkan ISIS

Perbatasan yang memiliki garis pantai yang luas di Samudera  Hindia (Indonesia)  dan ratusan pulau yang tidak berpenghuni adalah kondisi yang diinginkan pelaku kejahatan untuk melakukan kegiatan tanpa kerja keras menghindari deteksi pihak keamanan.  Berbeda halnya dengan Kepri yang berbatasan dengan negara tetangga memiliki sistem keamanan yang cukup.

Sebaliknya perbatasan Indonesia wilayah Kepni, sistem keamanan dan pengawasan sangat tidak memadai. Jalur  Kepni menuju ke daratan Sumatera baik ke jalur Aceh,  Sumatera Utara dan Sumatera Barat tidak ada sarana pengawasan terkait barang yang dibawa.

Baca Juga : Tokoh Agama : Duga Oknum TNI – Polri Terlibat Jaringan Narkoba di Kepulauan Nias

Sarana pelabuhan di beberapa tempat antara lain pelabuhan Guningsitoli, Teluk Dalam, Sirombu, Lahewa semua pelabuhan yang tidak memiliki alat deteksi barang bawaan atau kiriman barang seperti narkoba, bahan peledak, senjata dan lain lain. Maka dengan keterbatasan mulai dari garis perbatasan dengan negara tetangga, banyak pulau yang tidak berpenghuni dan alat deteksi yang tidak ada menjadi pintu masuk narkoba dan kegiatan teroris masuk ke Indonesia.

Ternyata, jelas  bahwa Kepni bisa dimanfaatkan jaringan teroris dan jaringan narkoba internasional memanfaatkan kelonggaran pengamanan di Kepni sebagai pintu masuk penyebaran radikalisme (teroris) dan perusak bangsa (narkoba) tak bisa dianggap  enteng. Dengan mengatakan, itu belum terjadi, dan masih jauh. Apakah perlu ada kejadian dulu (latihan teroris yang masif) dan narkoba masuk dulu ke Kepni, baru sadar. Seharusnya, orang-orang itu mengatakan dengan tindakan mendukung 100 persen pencegahan radikalisme dan terorisme.