Gubernur Lain Murka Ke Pendemo Anarkis, Anies Asyik Hitung Proyek Baru

0
781
Kiri ke Kanan ; Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Gubernur Daerah Khusus Jakarta Anies Baswedan

Jakarta, NAWACITAPOST– Demo penolakan UU Ciptaker, Kamis 8 Oktober 2020  terjadi hampir diseluruh daerah aksinya anarkis. Akibatnya, aset publik hancur dan rusak. Kerugian mencapai puluhan bahkan ratusan miliar. Padahal aset itu, didanai APBN dan APBD yang asalnya dari pajak rakyat.

GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubowono X geram atas aksi pendemo anarkis . Seruannya usut,  tangkap, dan pidanakan mereka yang merusak aset publik dengan sengaja. Aparat kepolisian jangan ragu, tegas Raja Keraton memberi dukungan penuh kepada pihak berwenang untuk melakukan tindakan hukum.

Kemarahan Sultan sebagai orang nomor satu Yogyakarta. Ternyata sangat berbeda jauh dengan yang dilakukan Anies Baswedan sebagai Gubernur Jakarta yang juga merusak aset publik (halte transjakarta, tanaman, pos polisi, lampu jalan (traffic light)), lampu penerangan jalan, rambu-rambu penunjuk arah, dan masih banyak lagi aset yang dirusak sepanjang jalan protokol Jakarta. Kerugiannya kata mantan menteri pendidikan dan kebudayaan mencapai 25 miliar rupiah.

Tak ada raut marah dan geram yang menyalak dari sosok Anies terkait kerusakan aset publik. Malah yang dikatakan kepada media. Akan segera memperbaiki. Harusnya suami Fert Farhati ini menyerukan kepada aparat kepolisian atau berwajib untuk menangkap dan menindak pelaku demo anarkis yang menyusahkan masyarakat sebagai pemakai aset publik itu.

Pengamat politik yang juga warga Jakarta, Yunarto Wijaya. Yang disampaikan melalui akun Twitter pribadinya @yunartowijaya, Jumat 9 Oktober 2020. Sampai terheran-heran dan tak habis pikir. Anies tak marah aset publik yang dipimpinnya dirusak masa, tandasnya.

Memang dua Gubernur sebutan daerahnya adalah  Istimewa dan Khusus. Mempersilahkan demo, karena dijamin UU. Asal dilakukan secara damai dan tidak anarkis. Yang istimewa bilang, karena sudah merusak aset publik, tangkap dan adili secara hukum. Sedangkan, yang khusus hanya berkata akan memperbaiki. Tak ada nada amarah dan geram yang berkecamuk. Mungkin, mau menghitung biaya perbaikannya yang sudah diketahui. Bisa diduga pengerjaan perbaikan kerusakan itu, diserahkan kepada kelompoknya.