Kejar dan Tangkap Pemberi ‘Karpet Merah’ Ke Djoko Tjandra

0
222
Gambar sebelah Kiri : Jaksa Pinangki (kakan) sedang duduk bersama Pengacara Anita Kolopaking. Gambar sebelah Kanan Buronan Doko Tjandra diapit oleh Jaksa Pinangki dan Pengacara Kolopaking

Jakarta, NAWACITAPOST-Buronan 11 tahun Djoko Tjandra biasa dipanggil Joker yang ditangkap di Malaysia kemudian saat ini menjadi terpidana kasus cessie Bank Bali akhirnya dieksekusi oleh Kejaksaan Agung dari Bareskrim dengan status tahanan Kejaksaan yang dititipkan di tahanan Bareskrim Mabes Polri.

Baca Juga : SBY Tak Berhasil Tangkap Djoko Tjandra, Era Jokowi Di Borgol

Pelarian sampai dijebloskannya suami dari Anna Boentaran di Bareskrim banyak melibatkan lintas instansi yang memberi ‘karpet merah’ kepada bos mulia grup ini.

Asep Subahan dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Lurah Grogol Selatan, Jakarta terkait penerbitan untuk pembuatan E-KTP Djoko Tjandra. Pencopotan Asep juga dibenarkan Walikota Jakarta Selatan Marullah Matali.

Selanjutnya Jaksa Pinangki  Sirna Malasari seperti disampaikan Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi telah mencopot jabatannya karena terbukti melanggar disiplin dan kode etik. Ditambah berfoto dengan buronan Djoko Tjandra

Brigjen Pol Prasetijo Utomo kini menjabat Kepala Biro (Karo) Korwas PPNS Bareskrim Polri dicopot dari Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan (Karo Korwas) Penyidik Pegawai Negeri Sipil  (PPNS) Bareskrim oleh Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz. Pasalnya terbukti membuat surat jalan ‘sakti’ untuk buronan Dojoko Tjandra dan sudah ditahan di tahanan Bareskrim  Mabes Polri.

Sedangkan Anita Kolopaking pengacara Doko Tjandra diduga perannya kuat mendapatkan logistik dari Joker untuk dibagi-bagikan kepada sejumlah pihak terkait. Statusmya masih belum ditahan.

Dari paparan tersebut Boyamin dari Masyarakat Anti Korupsi menduga mereka-mereka itu tidak bisa bekerja sendiri ada pihak atas yang juga ikut serta. Nah pihak atas ini yang harus diselidiki. Namun dirinya belum punya cukup bukti.

Bahkan Ketua Komisi III DPR yang salah satunya mitranya dengan Kejaksaan Agung bahwa tak cukup jaksa Pinangki dicopot dari jabatannya. Tindakan pidananya perlu di terapkan.

Menkopolhukam Mafud MD pun geram dengan kelakuan brengsek oknum aparat penegak hukum yang begitu mudahnya seorang Joker memanfaatkan celah hukum yang sudah diketahuinya. Jika bukan melibatkan oknum aparat penegak hukum.

Jika perlu, tegas mantan Ketua MK mereka yang membantu Joker harus dihukum seberat-beratnya tanpa pandang bulu.

Perlu dicatat bahwa di era Jokowi penegak hukum jangan coba-coba bermain atau bekerjasama dengan para koruptor lewat pengacaranya. Oknum pelakunya (lurah, jaksa, polisi, pengacara) sudah ada yang dicopot, ditahan , dan tersangka.

Bahkan tidak tertutup kemungkinan nama-nama baru dan jabatan di atasnya bisa terseret juga.

Gigit sendiri ala Jokowi ternyata banyak hasilnya. Hal ini membuat para mafia, koruptor dan mereka yang selalu memainkan hukum semakin gemetaran, ketakutan, bersembunyi dimanapun tak bisa lagi ada tempat. Yang ada hanya dikejar dan ditangkap diproses hukum lalu dijebloskan ke penjara.