Anak 13 Tahun di Sirombu, Dianiaya oleh Kepala Sekolah hingga Luka-luka dan Masuk RS

10
4208
Sirombu, NAWACITA – Tepat tanggal 28 Desember 2019, sekitar pukul 16.30 WIB, terjadi penganiayaan berat yang menimbulkan luka-luka dan lebam di sekujur tubuh anak di bawah umur (13 tahun) dan yatim an. DL di desa Fadoro, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat.
Anak 13 Tahun di Sirombu, Dianiaya oleh Kepala Sekolah hingga Luka-luka dan Masuk RS

Sirombu, NAWACITA – Tepat tanggal 28 Desember 2019, sekitar pukul 16.30 WIB, terjadi penganiayaan berat yang menimbulkan luka-luka dan lebam di sekujur tubuh anak di bawah umur (13 tahun) dan yatim an. DL di desa Fadoro, Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat.

Dugaan pelaku penganiayaan adalah MD, seorang kepala sekolah SDN di Desa Tugala, Sirombu, Nias Barat.

Baca Juga: Prabowo temui Jokowi di Istana, Ucapkan Selamat Tahun Baru

Menurut kesaksian seorang warga, sebagaimana dikonfirmasi oleh nawacitapost (1/1/2020), kejadian ini berawal dari tuduhan MD terhadap DL yang dituduh merusak kursi di sekolah.

“Benar, Pak MD itu mengejar DL dan langsung memukul, yang mengakibatkan DL mengalami luka memar dan berdarah di bagian kening bagian kiri, luka di punggung sebelah kanan, luka di tangan kanan, dan luka lebam membiru di bagian lutut korban”, kata warga.

Melihat kejadian tragis dan membabibuta yang dilakukan oleh MD, warga langsung melaporkan hal ini kepada kepala desa setempat. Kades Fadoro berusaha melerai dan membawa korban ke kantor Polsek Sirombu, demi keamanan dari tindakan brutal selanjutnya yang akan diterima korban dari pelaku MD.

Mendengar kejadian ini, pihak keluarga mencoba mengklarifikasi kepada Kades Fadoro tentang motif mengapa DL dibawa ke kantor Polisi.

Akhirnya, Kades bersama keluarga menjemput DL di Polsek Sirombu dan dibawa ke rumah.

Tanggal 29 Desember 2019, DL diantar ke Puskesmas Sirombu untuk penanganan medis. Setelah mendapat pemeriksaan medis intensif, pihak puskesmas merekomendasikan korban DL untuk dibawa ke RS Gunungsitoli.

Baca Juga: Komentari Banjir Jakarta, Anies: Kebutuhan Dasar Warga akan Dipenuhi

Anehnya, dalam keterangan yang dirilis oleh pihak puskesmas an. Perawat SH, DL dinyatakan bahwa luka yang dialaminya murni karena kecelakaan karena jatuh saat bermain-main di halaman sekolah SDN di Desa Tugala.

Saat ini DL dirawat di RS Gunungsitoli dalam keadaan lemah dan tak berdaya ditemani oleh ibunya, SG.

Kejadian brutal ini sudah dilaporkan ke Polsek Sirombu pada tanggal 29/12/2019 dengan Nomor. STPLP/33/XII/2019/NS-Rombu.

Namun sampai saat ini, tindak lanjut pihak kepolisian terhadap pelaku belum menunjukkan keseriusan dan adem. Diduga, ada pihak-pihak lain yang mengintervensi kasus ini. Pelaku MD diketahui memiliki seorang saudari perempuan sebagai Polwan yang bertugas di unit PPA, sehingga ada indikasi kasus ini akan menguap begitu saja, dan pelaku bebas berkeliaran.

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 ayat (2) bahwa Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Berdasarkan amanah UU tersebut, DL wajib mendapat perlindungan hukum. Beberapa LSM sudah mencoba mengklarifikasi hal ini, tapi masih menemukan jalan buntu.

“Saya berharap, Pak Kapolres Nias sudah mendengar hal ini dan mengambil tindakan sesuai dengan hukum yang berlaku. Ini benar-benar tindakan pidana yang menciderai rasa kemanusiaan”, kata DH seorang pegiat LSM di Gunungsitoli.

Lanjutnya, DL yang kini sedang terbaring di RS Gunungsitoli tidak memiliki BPJS untuk membantu keluarga dalam menebus biaya pengobatan yang sedang berjalan.

Comments are closed.