Tari Bedhaya Makaryo Utomo, Dari Narapidana Perempuan Untuk Indonesia Maju

4
38
Tari Bedhaya Makaryo Utomo, Dari Narapidana Perempuan Untuk Indonesia Maju

Semarang, NAWACITA – Tarian Bedhaya Makaryo Utomo persembahan narapidana perempuan Indonesia berhasil memukau tamu undangan pada Peringatan Hari Ibu ke-91 di kawasan Kota Lama, Semarang, Minggu (22/12).  

Acara ini dihadiri isteri Wakil Presiden Republik Indonesia, Wury Estu Handayani, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhajir Effendy, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Gusti Ayu Bintang Darmavati, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, serta para pimpinan tinggi madya dan pratama pusat dan daerah.

Baca Juga: Perayaan Natal Bersama Keluarga Besar Kanwil Kemenkumham Sumut

Tarian yang sedianya akan disaksikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang berhalangan hadir dalam Peringatan Hari Ibu 2019 disambut riuh tepuk tangan dan decak kagum para tamu undangan yang hadir. Terlebih setelah mengetahui tarian tersebut dipersembahakan oleh kolaborasi narapidana perempuan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Yogyakarta dan Lapas Perempuan Jakarta hingga menghasilkan gerak tari yang mengagumkan.

Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami, menjelaskan melalui persembahan Tari Bedhaya Makaryo Utomo yang dibawakan oleh narapidana perempuan Indonesia, Pemasyarakatan ingin menunjukkan bahwa walau berada di dalam lapas narapidana juga tetap bisa berkreasi, berkolaborasi, bahkan berprestasi untuk berkontribusi positif bagi kemajuan dirinya sendiri serta bangsa dan negara Indonesia.

“Ini persembahan dari narapidana perempuan Indonesia pada Peringatan Hari Ibu ke-91, perempuan-perempuan hebat Indonesia. Perempuan berdaya Indonesia Maju,” Utami.

“Tarian ini dipersiapkan dengan sangat sungguh-sungguh dengan keuletan, kreativitas, dan cinta kasih,” tambahnya.

Tak sekadar tarian, Utami juga mengungkapkan Batik Bedhaya Makaryo Utomo yang dipakai narapidana perempuan saat menari juga hasil kerajinan yang dibuat narapidana perempuan Lapas Perempuan Semarang. “Kolaborasi yang sempurna, sangat kuat, bahkan sangat emosional,” ucapnya.

Baca Juga: Hari Terakhir Seleksi Verdok dan PTB Usai, Kakanwil Imam Suyudi Apresiasi Totalitas Kinerja Panitia

“Pastinya ini suatu kebanggaan. Melalui kolaborasi ini narpidana yang juga anak bangsa telah membuktikan bahwa mereka tidak berputus asa dan tidak ingin hanya berdiam diri. Mereka mampu beri yang terbaik, mampu berdaya selama diberi tempat berkreasi, maka mereka bisa berkontribusi untuk Indonesia,” pungkas Utami.

Sebelumnya, Menko PMK, Muhajir Effendi, menyatakan kaum perempuan memiliki keistimewaan karena sebagai penentu generasi Indonesia masa depan. “Seribu hari awal kehidupan seseorang ditentukan seorang ibu. Itu sebabnya saat ini pemerintah fokus pada masalah stunting yang menjadi tanggung jawab bersama, terutama kaum ibu, karena stunting terjadi sejak sebelum anak dilahirkan. Di Indonesia, dari setiap 10 balita terdapat tiga balita yang mengalami stunting,” ungkap Muhajir.

Tak hanya memukau melalui pertunjukkan seni tari, pada Peringatan Hari ibu ke-91 ini Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) juga unjuk gigi lewat hasil kerajinan karya unggulan narapidana di stan pameran Ditjen PAS. Terdapat pelbagai jenis kain batik, ukiran, pernak pernik memukau karya terbaik narapidana dari seluruh Indonesia, hingga pelbagai kerajinan narapidana berkualitas ekspor yang telah mendapat pengakuan positif dari beberapa pasar luar negeri yang bisa dikunjungi dan dibeli langsung oleh masyarakat.