Diusir dari Rumah Warisan, Tiga Anak Tuntut Hak ke Mantan Ibu Tiri

3
716
Surabaya, NAWACITA - Malang benar nasib ketiga ahli waris Rumah Jalan Sapudi No. 2 Surabaya. Setelah diusir oleh mantan ibu tiri ketiganya tidak diperbolehkan masuk kerumah warisan ayahnya.
Diusir dari Rumah Warisan, Tiga Anak Tuntut Hak ke Mantan Ibu Tiri

Surabaya, NAWACITA – Malang benar nasib ketiga ahli waris Rumah Jalan Sapudi No. 2 Surabaya. Setelah diusir oleh mantan ibu tiri ketiganya tidak diperbolehkan masuk kerumah warisan ayahnya.

Bak sebuah sinetron yang sering kita tonton ditelevisi, seorang mantan Ibu tiri dengan teganya merebut hak anak-anak kandung dari almarhum suaminya yang jelas memiliki hak terhadap harta ayahnya.

Baca Juga: Optimalisasi Tugas Q RAT, Danlantamal V Tambahkan Dua Sepeda Motor Operasional

Diceritakan oleh Eka Putra Juanda anak ketiga yang juga adalah ahli waris dari Almarhum (Alm) Agus Juanda alias Go Lien Swie bahwa, Siauw Tjin San atau Bu Henny (68th) adalah istri ketiga dari Almarhum ayahnya.

Menurut Eka, setelah ayahnya meninggal 12 Desember 2018 dan enam bulan berikutnya tepatnya bulan Juni, Bu Henny mengaku memiliki surat wasiat dari Almarhum suaminya Agus Juanda yang katanya ditulis pada tahun 2016 yang menyatakan mewariskan kepemilikan rumah di Jl. Sapudi No. 2 Surabaya kepadanya. Karena sebelumnya Dirinya dan kedua kakaknya tidak pernah diajak bicara masalah wasiat tersebut, ketiga ahli waris yaitu Rose Sana Go, Rosemawati Go dan Eka Putra Juanda / Go Tjun Hauw mempertanyakannya. Hal ini dirasa aneh karena saat penulisan surat wasiat tidak disaksikan oleh ahli waris yaitu ketiga anak Almarhum.

“Rumah ini adalah harta asal karena sebelum menikah dengan bu Heny, kami sekeluarga sudah tinggal disini dan kami punya hak untuk rumah ini,” papar EKA dijumpai saat menutup pagar rumah Jl. Sapudi No. 2 dengan terpal. (9/12) Siang

Pada 12 November 2019 yang lalu Rosemawati Go anak kedua Almarhum meminta ijin Bu Henny untuk tinggal di rumah tersebut dikarenakan tidak enak karena harus tinggal di rumah mertuanya, namun Bu Henny tidak memperbolehkan dan menghalang halangi, bahkan sempat memukul punggungnya dan tidak hanya itu Ibu tirinya tersebut juga mengusir serta dengan arogan memanggil petugas Polsek Gubeng untuk datang ke rumah Jalan Sapudi No. 2 Surabaya.

Baca Juga: Kunjungi Pahlawan Ekonomi, Menteri PPPA Dorong Perempuan Topang Ekonomi Keluarga

Upaya mengusir Rosemawati Go tersebut gagal karena polisi mendapat klarifikasi dari Lawyer tentang status hak Ahli Waris. Namun setelah Polisi dan Lawyer Ahli Waris meninggalkan tempat, Siauw Tjin San (Bu Henny) kembali mengusir Ahli waris tersebut. Sesaat setelah kejadian itu Rosemawati Go sebagai Ahli waris memanggil saudara Alm. Ayahnya yang bernama Agustiawan untuk memediasi, namun kembali gagal karena bu Heny mengingkari kesepakatan.

“Kami sudah beritikad baik yaitu menempuh jalur damai dengan bermusyawarah, dan kami cuma meminta hak bukan untuk merebut” ujar Eka.

Eka juga sudah berkoordinasi dengan Muspika Kecamatan Gubeng untuk dimediasi dan tadi pagi (9/12) adalah panggilan yang dua kali, namun kembali yang bersangkutan tidak mau hadir.

“Ini berarti yang bersangkutan sudah tidak bisa diajak dengan jalan damai. Maka dari itu kami akan mengupayakan ke jalur hukum dan hari ini kami akan menyegel rumah dengan menutup terpal pada pintu pagar,” pungkas Eka dengan agak geram.

Keterangan Kuasa Hukum Ahli Waris

Pada kesempatan itu, Sudjiono, SH, MH kuasa hukum ahli waris menuturkan bahwa ada permasalahan yang De Facto juga De Jure, dan masalah ini sudah masuk De jure yaitu masuk ke ranah pengadilan. Secara de Facto ahli waris mempunyai hak karena rumah ini adalah milik Ayah dan Ibu kandungnya. Artinya setelah Ibu kandungnya meninggal otomatis 50% hak jatuh ke anak kandungnya. Setelah itu ayah kandung menikah yang kedua dan meninggal kemudian menikah yang ketiga dan saat itu menulis surat wasiat. Prinsip wasiat tersebut tidak boleh merugikan ahli waris, jadi yang diberikan wasiat tersebut sebagian ada hak harta waris kepada ahli waris. Jadi kepemilikan ahli waris adalah 50% ditambah hak yang tidak boleh merugikan ahli waris.

“Secara hukum Hak waris adalah hak yang melekat dan harus dipenuhi. Namun kenyataannya secara De Facto saat ini dikuasai oleh mantan ibu tirinya. Mengapa saya katakan mantan, karena ayah kandungnya sudah meninggal,” papar pengacara dari Garuda Law Firm ini.

BNW (Nawacitapost, Jawa Timur)

Comments are closed.