Oknum Dokter Gigi di Bekasi menipu Warga Belasan Miliar

0
163
Ratusan Ribu
Oknum Dokter Gigi di Bekasi menipu Warga Belasan Miliar

Bekasi, Jawa Barat, NAWACITA – Seorang oknum dokter gigi di Bekasi berhasil menipu uang belasan miliar milik warga, dengan modus menawarkan proyek pengadaan alat-alat kesehatan. Sang dokter yang telah berstatus terdakwa, menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu sore. Persidangan berakhir ricuh lantaran keluarga korban mencoba menghampiri terdakwa.

Sejumlah kerabat korban diketahui hadir pada sidang yang beragendakan mendengar keterangan saksi ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti, dan keterangan saksi terdakwa serta terdakwa itu.

Usai sidang, kerabat korban berupaya mengejar terdakwa hingga ke ruang tahanan. Terdakwa pun panik dan terjatuh. Terdakwa bahkan sempat memukul kamera wartawan karena emosi. Polisi yang berjaga langsung mengamankan terdakwa ke ruang tahanan untuk menghindari keributan memanjang.

“Terdakwa sudah menipu keluarga kami sampai miliaran. Pengadilan harus beri hukuman yang berat,” kata Iyang Triyanto, salah satu kerabat korban di PN Bekasi, Rabu.

Ketua Majelis Hakim, Hamonangan Tampubolon yang memimpin persidangan juga sempat dibuat kesal, lantaran terdakwa memberikan keterangan yang berubah-ubah dan tak kooperatif. Dalam persidangan, terdakwa juga disebutkan pernah mendekam di LP wanita Tangerang selama dua tahun karena kasus yang sama.

Menanggapi hal itu, kuasa hukum terdakwa, Samuel Waldemark menyampaikan bahwa kliennya pernah menjalani operasi di bagian kepala, sehingga membuat konsentrasi terdakwa mengalami sedikit gangguan.

Samuel juga menyampaikan kliennya telah mengembalikan separuh uang milik korban, yang membuat kasus ini seharusnya masuk ke ranah perdata.

Baca Juga : Pemerkosaan Terhadap Seorang Wanita dengan Suntikan Bius

“Jadi harusnya bukan ranah pidana lagi, karena kan sudah separuhnya (uang korban) dikembalikan,” jelasnya.

Modus sang oknum dokter yaitu menawarkan proyek pengadaan alat-alat kesehatan. Agar proyek bisa berjalan, terdakwa kemudian meminjam modal sebesar Rp16 miliar kepada sejumlah korban. Namun proyek yang ditawarkan ternyata fiktif.