Rawat Sejarah, Mahasiswa Kunjungi Heritage Rutan Rangkasbitung

0
97
Rawat Sejarah, Mahasiswa Kunjungi Heritage Rutan Rangkasbitung

Rangkasbitung, NAWACITA – Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Setia Budhi Rangkasbitung melakukan kunjungan ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Rangkasbitung Sabtu (9/9) lalu.

Kunjungan Program Studi Sejarah STKIP Setiabudhi yang berjumlah 26 orang tersebut diterima oleh Kesatuan Pengamanan Rutan (KRP) dan Kepala Subseksi (Kasubsi) Pelayanan Tahanan di Ruang Aula Pembinaan dr. Sahardjo. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka melihat bukti sejarah yang masih ada sampai sekarang yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (heritage).

Dalam sambutannya Kepala KRP, Adi Santo menyampaikan bangunan rutan ini dulunya bernama Roemah Pendjara yang dibangun tahun 1918 pada masa Pemerintah Hindia Belanda.

“Jadi yang ditetapkan heritage tersebut ada dua blok, yaitu blok tahanan dan wisma karena memang dulu baru ada dua blok itu. Sementara tambahan baru adalah blok narapidana dibangun pada tahun 2000-an,” terang pria asa Cimarga ini. Ia menambahkan, cagar budaya tersebut dari dulu sampai sekarang tidak berubah struktur dan materialnya. Pihak rutan hanya merawat saja karena bangunan masih kokoh dan digunakan sebagai blok tahanan yang mampu menampung puluhan tahanan maupun narapidana.

Senada dengan Santo, Dede Ukmartalaksana selaku Kasubsi Pelayanan Tahanan menyebut bahwa rutan sudah mengalami transformasi ke arah masa kini.

“Ya dulu kan sistemnya kepenjaraan, setelah ditetapkan 27 April 1964 berubah menjadi sistem pemasyarakatan, sekarang ini warga binaan pemasyarakatan (WBP) dibina sedemikian rupa dengan kegiatan positif dan kemudian kita baurkan dengan masyarakat melalui program asimilasi karena memang aturannya sudah begitu. Jadi konsep dulu sudah jauh dan sangat berbeda,” ujar Dede. Ia berharap para mahasiswa selain bisa mempelajari sejarah juga menjadi agen perubahan yang sensitif memaknai dan menjadikan cambuk untuk tidak melanggar aturan hukum yang berlaku.

“Kenali dan rawat sejarah, lalu berpijaklah untuk menatap masa depan yang cerah,” pesannya.

Sementara salah seorang mahasiswa, Ernis menyebut bahwa ia dan teman-temannya amat kaget sekaligus bangga bisa berkunjung ke tempat bersejarah ini. Ia merasa banyak kesan mendalam setelah ini. “Ini kita pertama kali kesini melihat bukti heritage terpelihara dan kokoh sampai sekarang, sekaligus kita melihat transformasi kehidupan dan sistem berubah dengan sangat baik. Anggapan kami terbantahkan. Rutan yang dikenal penjara tidak seangker seperti dahulu, kami melihat nuansa lingkungan pendidikan dan pembinaan yang terstruktur, lingkungan yang kekeluargaan, dan memanuasiakan manusia,” ucapnya.

Ia mengaku menjadi semakin termotivasi bahwa mereka memiliki kebebasan yang luar biasa dibandingkan dengan para WBP, oleh karenanya kami harus jadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat.