Lepas Dari Tuntutan Mati, Duo Manurung Kurir 50 Kg Sabu, Kena Vonis 40 Tahun Penjara

1
158
Rantauprapat,NAWACITA-Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Rantauprapat menjatuhkan putusan vonis hukuman penjara masing-masing 20 tahun kepada Manurung bersaudara, Kamis (5/9/2019) di ruang Cakra pengadilan setempat.
Putusan itu jauh di bawah harapan jaksa Maulita Sari dan Tulus Sitohang dari Kejaksaan Negeri Rantauprapat yang sebelumnya menuntut hukuman mati kepada dua anak beradik warga jalan Cenderawasih, Kuala Kapias, Teluk Nibung, Tanjung Balai, Sumatera Utara ini. Keduanya terindikasi kuat terlibat dalam sindikat penyelundupan narkoba jenis sabu sebanyak 50 kg dan 15 ribuan butir pil ekstasi.
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Rantauprapat yang diketuai Khamozaro Waruwu didampingi hakim anggota Jhon Malvino Seda Noa Wea dan Darma Putra Simbolon, memiliki sejumlah pertimbangan kemanusiaan dalam menjatuhkan vonis terhadap Ruslian Manurung alias Ian dan Andi Syahputra Manurung alias Putra.
Persidangan yang dibuka tepat pukul 10.00 Wib dan membutuhkan waktu selama satu jam dalam pembacaan vonis setebal 80-an halaman itu, menghadirkan terdakwa Ruslan mengenakan kaos merah dan kopiah hitam. Sedangkan terdakwa Putra mengenakan kemeja liris ungu.

Terdakwa Ruslan sempat meneteskan air mata saat majelis hakim membacakan lembaran berkas yang meyakinkan keduanya melakukan tindak pidana sebagai mana dakwaan pihak jaksa. Sehingga terdakwa harus mempertanggungjawabkan dan terdakwa dinyatakan bersalah. Apalagi, menurut majelis hakim, dampak narkotika berdampak buruk.
Namun majelis tidak sependapat dengan tuntutan jaksa. Dengan menyatakan tidak tepat menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya. Karena faktanya kedua terdakwa sebagai kurir.
Sejumlah pertimbangan majelis di dalam putusan beregistrasi nomor 466 itu. Diantaranya, kedua terdakwa tidak pernah dijatuhi hukum dalam tindak pidana. Juga, terdakwa memiliki tanggungan keluarga.
Tapi, kedua terdakwa juga diharuskan membayar denda sebesar Rp1 miliar atau penjara selama 6 bulan. Selain itu, majelis hakim memutuskan kapal bermesin sebagai barang bukti yang dipergunakan sebagai sarana kejahatan, karena masih bernilai maka disita oleh negara.

Sidang keduanya dihadiri istri kedua Ruslan, Rani dan kakak serta adik kandung terdakwa. Rani mendengar putusan majelis mengaku sedih. Sebab, dia harus menunggu lama proses keluarnya kepala keluarga beranak 9 tersebut.
“Saat ini saya yang menanggung anak sebanyak 9 orang. Termasuk dari istri pertama yang sudah pisah,” katanya, di komplek PN Rantauprapat.
Dia mengaku, selain kapal mesin mereka yang disita negara, sebuah kapal lainnya terpaksa dijual untuk biaya hidup mereka.
Kedua Manurung Bersaudara diringkus Tim gabungan Satgas Narcotic Investigation Center (NIC) Bareskrim Mabes Polri dan Satpol Air Polres Labuhanbatu, dalam keterlibatan memasok 50 bungkus sabu dan ekstasi, Selasa 29 Januari 2019 lalu.
Jejak keduanya dalam jaringan penyaluran narkotika sabu, terurai. Saat majelis hakim mempertanyakan kronologis bisnis hitam itu di persidangan, Kamis (4/7/2019) lalu. Peranan keduanya, terungkap.
Ruslian diketahui sebagai orang penting dalam memasukkan barang haram itu dari seberang ke Indonesia. Dia, penerima pesan langsung dari rekan bisnisnya Zulham.
“Saya dimintai tolong untuk menjemput barang tersebut,” kata pria beristri dua dan beranak 9 ini, kepada majelis hakim.
Ruslian mengakui, perkenalannya dengan Zulham berawal sejak beberapa tahun silam. Keduanya, berbisnis jual beli udang. “Dulu pernah kerjasama jual udang,” jelasnya.
Zulham yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) ini memerintahkan Ruslian untuk menjemput narkoba sabu di perairan Selat Malaka. Kemudian, untuk melaksanakan penjemputan barang tersebut, dia hanya menugaskan empat orang. Satu diantaranya adek kandungnya, Andi Syahputra Manurung alias Putra.
Titik kordinat lokasi pertemuan pun diserahkan. Bermodal perahu bermesin milik Ruslian, keempatnya menempuh delapan jam perjalanan. Setelah menunggu beberapa jam, pada malam hari, sebuah kapal merapat. Dan dengan sandi, “Saya Ruslian”, sebuah tas berpindah ke perahu mereka.
Dalam perjalanan pulang menuju pelabuhan Tanjung Sarang Elang, Panai Hulu, Labuhanbatu, perahu mereka mengalami kerusakan mesin. Di saat bersamaan, Ruslian tertangkap pihak Tim NIC Bareskrim Mabes Polri. Di atas perahu, Putra cs, mendapat informasi tersebut melalui telepon selular. Dengan kemampuan mekanik seadanya, keempatnya memperbaiki mesin dan meraih bibir pantai.
Tepat di kawasan hutan bakau Desa Sei Kubung, Kecamatan Panai Hilir Kabupaten Labuhanbatu, tas hitam yang dimasukkan ke dalam plastik fibe, kemudian menanamnya.
Selanjutnya, keempatnya memilih menyelamatkan diri masing-masing. Namun naas, Putra tertangkap oleh personel Polsek Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara sekitar pukul 01.00 Wib saat menuju kota Medan menumpangi bus Chandra.
Petugas Tim NIC Bareskrim Mabes Polri menggunakan Kapal patroli KP II 2030 dan Kapal Patroli KP II 1001 milik Ditpolair Polda Sumut membawa Putra ke lokasi penanaman sabu dan mengamankan barang bukti.
Dalam persidangan, kepada majelis hakim kedua abang beradik tersebut juga mengakui sudah kali kedua memasok narkoba. Kali pertama, sebanyak 37 bungkus berhasil diantar ke Jujun, orang kepercayaan Zulham di pelabuhan Tanjung Sarang Elang.
“Ini kali kedua. Seminggu sebelum penangkapan berhasil 37 bungkus,” kata Ruslian.
Dari aksi ini, mereka dijanjikan imbal jasa sebesar Rp150 juta. Namun, masih menerima Rp60juta. Kemudian membagi masing-masing Rp10 juta untuk putra dan tim

Comments are closed.