Wardaniman Larosa: Michael Howard dan Laura Lazarus Sepakat Berdamai

0
217

Jakarta, NAWACITA – Polemik hukum yang terjadi antara Howard dan Laura Lazarus terkait kendala komunikasi dan kesalahpahaman dalam hal teknis terhadap penerbitan buku berjudul “Mind O Vator” sudah mulai menemukan titik temu. Wardaniman Larosa sebagai kuasa hukum Howard saat dihubungi melalui selulernya mengatakan bahwa gugatan Howard yang terdaftar Polres Jakarta Utara (13/12/2018), dengan nomor TBL/1385/K/XII/2018/PMJ/RESJU, secara resmi telah dicabut (10/8/2019).

Larosa menuturkan bahwa tuntutan hukum yang sempat dilakukan itu, murni terjadi karena kesalahpahaman dan tidak intensnya komunikasi antara Howard (penulis buku) dan Laura (penerbit Growing Publishing). Howard merasa bahwa ia telah ditipu oleh Laura, karena tanpa konfirmasi Growsing Publishing mendaftarkan ISBN buku ‘Mind O Vator’ yang ditulisnya.

Publik semua tahu, bahwa Howard merupakan pria Indonesia yang menghabiskan seluruh hidupnya di negeri Paman Sam, AS. Karena kurangnya kasih sayang yang diterima dari kedua orangtuanya, Howard melakukan kenakalan-kenakalan yang tidak biasa sebagai remaja. Ia ikut bersama gangster dan menggunakan obat-bat terlarang. Howard dikabarkan sudah 3 kali masuk penjara karena ulahnya sendiri.

Akibat perbuatan pelanggaran hukum yang terus terjadi, Howard akhirnya dideportasi oleh Pemerintah AS pada tahun 2014.

Howard menuliskan kisah kelam dan perjuangannya dalam buku pertamanya berjudul “Return” yang kemudian ia lanjutkan dengan menuangkannya dalam buku kedua berjudul “Mind O Vator”, dimana dia mengalami kesalahpahaman dengan Laura dalam proses penerbitan dan pendaftaran ISBN-nya karena masih belum kelar penandatanganan MoU-nya.

Menurut Larosa, kliennya yang berprofesi sebagai Aktor dan Motivator itu sudah mengambil keputusan untuk memilih jalan damai dengan Laura yang juga berprofesi sebagai motivator. Hal ini dibuktikan dengan pencabutan laporan secara bersama dari Polres Jakarta Utara pada Jumat, 9/8/2019.

“Kami menyadari ada beberapa kendala teknis dalam prosesnya sehingga mengakibatkan kesalahpahaman ini. Tapi sekarang permasalahan dan kesalahpahaman sudah terselesaikan dengan baik, dimana kedua belah pihak sepakat utk berdamai dan tidak memperpanjang permasalahan ini,” kata Laura.

Di akhir wawancara, Larosa berharap bahwa keduanya menjadikan kasus ini sebagai sebuah pelajaran yang sangat berharga. Proses mediasi ini merupakan pilihan terbaik bagi kedua pihak agar dapat kembali fokus berkarya, kata pengacara muda asal Nias itu.