LPN Jakarta Sosialisasikan Program Percontohan Tes & Pengobatan Hepatitis C

10
163

Jakarta, NAWACITA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta menyelenggarakan sosialisasi program percontohan tes dan pengobatan Hepatitis C bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Senin (1/7) di area gazebo. Kegiatan ini dibuka oleh Soeistanto selaku Kepala Seksi Pembinaan Narapidana/Anak Didik mewakili Kepala Lapas Narkotika Jakarta, Asep Sutandar.

Selanjutnya, kegiatan ini diawali dengan sosialisasi yang dihadiri sekitar 200 WBP serta pemeriksaan dan pengambilan sampel darah sebanyak 20 WBP. Sosialisasi pun akan dilanjutkan di tiap-tiap blok hunian.

“Harapan kami seluruh WBP mengikuti tes darah untuk pengecekan terinfeksi Hepatitis C atau tidak. Tidak perlu takut karena pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Andai dalam pengecekan nanti ditemukan WBP yang terinfeksi, akan langsung ditangani tim medis Poliklinik Lapas Narkotika Jakarta dan lama masa pengobatan berlangsung selama 3-6 bulan,” tutur Soeistanto

Pada kesempatan yang sama, Dr. Yusman Akbar selaku koordinator menyampaikan penularan Hepatitis C paling sering karena pengguna jarum suntik narkoba yang presentasenya mencapai 80 – 90% terinfeksi. Hubungan seksual pun dapat menjadi jalan terinfeksi Hepatitis C walau pun presentasenya hanya 5%.

Ia menguraikan gejala Hepatitis C kurang spesifik. “Setelah enam bulan terinfeksi belum ada gejala apa-apa. Setelah terinfeksi lama/kronis baru muncul diawali dengan mual-mual hingga muntah-muntah, nafsu makan tidak ada, secara fisik mata, muka, kulit terlihat kuning, dan air seni berubah warna menjadi cokelat,” jelas Dr. Yusman.

Ia pun berharap seluruh WBP Lapas Narkotika Jakarta dapat diambil sampel darahnya untuk mengetahui jumlah WBP yang terinfeksi. Kegiatan ini nantinya akan dilaksanakan secara bertahap dimana setiap harinya akan ada sekitar 100 WBP yang akan dambil sampel darahnya.

“Dengan adanya layanan kesehatan di Lapas Narkotika Jakarta serta dukungan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dan RS Pengayoman, kami semua berkomitmen untuk mencegah dan mengobati bila ada WBP yang terdeteksi terinfeksi Hepatitis C,” janji Dr. Yusman.

Acara diakhiri dengan pengambilan sampel darah dan pemeriksaan terhadap 20 WBP untuk mengetahui ada tidaknya WBP yang terinfeksi Hepatitis C. Dari sejumlah 20 WBP yang diperiksa, terdapat tiga WBP yang positif terinfeksi. Selanjutnya, WBP yang terinfeksi akan dilakukan pengambilan sampel darah kembali pada pekan depan untuk mengetahui seberapa banyak virus Hepatitis C yang tersebar di dalam tubuh penderita agar nantinya dapat dilakukan tindakan pengobatan yang tepat selama tiga bulan pertama.

Comments are closed.