Kurang Mahar,Besan ditusuk

0
1513

Amandaya,NAWACITA-Peristiwa memilukan terjadi di Desa Amandaya,Kecamatan Amandaya,Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Hanya gara-gara kurang mahar,seorang pria bernama Taliasa Zai menganiaya besannya sendiri, Samalisa Laia, hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka tikaman. Pelaku hingga saat ini masih ditahan di Polsek Teluk Dalam. Sedangkan korban masih dirawat di rumah sakit.

Ironisnya, Taliasa Zai yang berada dalam tahanan, melapor balik ke polisi telah dikeroyok oleh adik dari Samalisa Laia. Akibatnya, dua adik Samalisa Laia ditetapkan sebagai tersangka kasus pengeroyokan dan kini mendekam di tahanan Polsek Teluk Dalam. Kondisi ini membuat Fannel Laia,anak korban menceritakan ketidakadilan yang membelit keluarganya di sosial media dan jadi viral.

Menurut Fannel, kasus ini berawal saat kakaknya akan menikahi pacarnya yang juga anak Taliasa Zai. Kebetulan mereka sudah berpacaran selama 6 tahun. Rencana pernikahan itu selalu terganjal oleh restu Taliasa Zai. “Beberapa kali kakak saya datang ke rumah calon mertuanya. Minta agar mereka bisa menikah. Tapi selalu ditolak,”kata Fannel.

Karena sudah kadung saling cinta, mereka akhirnya menikah disaksikan kepala desa dan keluarga besar kedua mempelai. Sebagai ‘uang dapur’, Taliasa Zai meminta uang cash sebesar Rp 50 juta. “Karena niat kami baik,permintaan itu kita penuhi meski pinjam sana sini,”kata Fannel.

Saat acara berlangsung,Samalisa Laia kemudian memberi tambahan ‘uang dapur’ sebesar Rp 5 juta serta perhiasan emas senilai Rp 5,85 Juta. Samalisa juga memberi tambahan satu karung  beras. Tak disangka, tiga hari setelah pernikahan Taliasa Zai mendatangi rumah besannya, Samalisa Laia.

Menurutnya, pernikahan anaknya tidak sah dan ia minta diulang lagi dengan mahar jadi Rp 300 juta. Setiap datang ke rumah Samalisa, Taliasa selalu membawa pisau kecil dan mengancam akan menganiaya Samalisa.

“Selama itu kami masih sabar dan tidak melawan. Kadang mama dan adik saya yang kecil lari ketakutan gara-gara diancam pelaku dengan parang. Ancamannya Itu bukan cuman sekali. Kadang teriak-teriak di depan rumah kami dan anaknya sendiri sering di maki-maki,”ujar Fannel.

Puncaknya pada Minggu,23 Juni 2019. Taliasa Zai  kembali mendatangi rumah besannya. Kebetulan yang ada di rumah hanya Samalisa Laia. Melihat keadaan yang cukup gawat, Samalisa lari ke rumah kepala desa untuk melaporkan. Tapi rupanya ia dikejar, hingga terjadi penusukan di dada,muka dan tangan.

“Sekarang  ayah saya masih terus mengalami pendarahan. Cuma beberapa hari lalu, ayah saya mendapat panggilan dari polisi sebagai saksi. Katanya ia dilaporkan pelaku karena pelaku merasa dikeroyok. Selain ayah, dua paman saya juga dipanggil dan sampai sekarang masih ditahan di kantor polsek. Saya berharap,ayah mendapat keadilan, karena dia yang jadi korban penusukan,”kata Fannel Laila.

Unggahan Fannel itu memicu banyak komentar, soal ketidakadilan penegakan hukum saat ini. Kakak kandung Fannel membenarkan,jika kejadian itu memang menimpa ayahnya. Karena masih dalam perawatan, Samalisa belum bisa memenuhi panggilan polisi. Namun kakak dari Fannel ini berharap, kasus ini bisa berakhir dengan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here