Kejaksaan Tunggu Salinan Resmi Putusan Terdakwa Karen Agustiawan

13
169

Jakarta, NAWACITA – Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta terhadap terdakwa Ir. Galaila Karen Kardinah alias Karen Galaila Agustiawan telah dibacakan pada persidangan Senin 10 Juni 2019. Terdakwa divonis selama 8 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) subsidair 4 bulan kurungan.

Mantan Direktur Utama PT Pertamina itu dinyatakan bersalah karena melanggar Pasal 3
UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Jaksa
Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), yakni 15 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 1.000.000.000,- (satu miliar rupiah) subsidair 6 bulan kurungan, serta
membayar uang pengganti sebesar Rp 284.033.000.000,- (dua ratus delapan puluh empat miliar tiga puluh tiga juta rupiah) subsidair 5 tahun penjara.

Sebelumnya tim JPU juga menjerat terdakwa dengan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum  Kejaksaan Agung Republik Indonesia  DR Mukri SH MH, merujuk putusan Pengadilan Tipikor Jakarta atas vonis tersebut, Kejaksaan Agung menyatakan masih pikir-pikir apakah akan mengajukan upaya hukum lanjutan atau tidak.

“Kami menunggu putusan resmi pengadilan. Sesuai ketentuan KUHAP, para pihak
diberikan waktu selama 7 hari untuk mengambil sikap,” ungkap Kepala Pusat Penerangan
Hukum Kejaksaan Agung RI, Dr. Mukri SH MH di Gedung Kejaksaan Agung Jakarta Selasa  (11/6/2019).

Dijelaskannya Mantan Direktur Utama Pertamina Ir. Galaila  Karen Galaila Agustiawan diduga terlibat dalam kasus korupsi  yang merugikan keuangan negara hingga Rp 568 miliar itu bermula pada 2009.

“Ketika itu Pertamina melakukan kegiatan akuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di lapangan BMG Australia. Kegiatan itu merujuk
agreement for sale and purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009 senilai US$ 31,917,228.

Namun, dalam pelaksanaannya justru ditemui dugaan penyimpangan terkait pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi, yakni tanpa kajian kelayakan (feasibility study) berupa kajian secara lengkap (final due dilligence), serta tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris.

“Walhasil kasus itu menyebabkan peruntukan dan penggunaan dana US$ 31,492,851 serta
biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah AU$ 26,808,244 tidak memberikan manfaat atau keuntungan kepada PT Pertamina, khususnya dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional,” pungkasnya.

Comments are closed.