Diduga Selewengkan Dana Umat Islam, Bachtiar Nasir Jadi Tersangka

10
276

Jakarta NAWACITA – Polisi berhasil mengungkap, Bachtiar Nasir, mantan Ketua GNPF MUI diduga menyalahgunakan biaya Aksi Bela Islam. Saat ini Bachtiar Natsir telah ditetapkan sebagai tersangka, meskipun belum ditahan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyampaikan, Mabes Polri mengungkapkan biaya Aksi Bela Islam 411 dan Aksi Bela Islam 212 pada 2017 mencapai angka Rp3 miliar.

Namun, dana umat sebesar Rp3 miliar yang tengah disimpan pada rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) disalahgunakan oleh Bachtiar Nasir. Ternyata dana hasil patungan umat Islam Indonesia oleh Bachtiar Nasir dikirimkan ke Turki.

Al hasil, Bachtiar pun ditetapkan sebagai tersangka terkait perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Dedi menjelaskan, Tim Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri menemukan beberapa alat bukti yang mengarah pada penggunaan uang Rp3 miliar untuk mendanai Aksi Bela Islam 411 dan Aksi Bela Islam 212 pada 2017.

“Memang benar, jadi dana itu digunakan untuk aksi sudah ditemukan buktinya oleh penyidik jadi nanti penyidik akan mengonfirmasi lagi hal itu kepada tersangka,” tuturnya, Selasa (7/5).

Menurut Dedi, pihaknya akan memanggil Bachtiar hari ini, Rabu (8/5) pukul 10.00 WIB. Dedi juga mengaku tidak mau berspekulasi apakah Bachtiar Nasirakan langsung ditahan atau tidak setelah menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka.

“Itu kewenangan penyidik, penahanan itu dilakukan jika dikhawatirkan tersangka akan melarikan diri, mengulangi perbuatannya atau menghilangkan barang bukti,” katanya.

Dedi memastikan, tim penyidik Bareskrim Polri akan profesional mengusut tuntas perkara tersebut dan tidak akan berhenti pada tersangka Bachtiar Nasir, namun akan mengembangkannya ke tersangka lainnya.

“Jika ditemukan fakta hukum, akan kami kejar terus,” ujarnya.

Soal pasal yang bakal menjerat Bachtiar, Dedi menambahkan, yakni pasal 70 juncto Pasal 5 ayat (1) UU Nomor 16/2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 28/2004 atau Pasal 374 KUHP juncto Pasal 372 KUHP atau Pasal 378 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 KUHP atau Pasal 49 ayat (2) huruf b UU Nomor 10/1998 tentang Perbankan atau Pasal 63 ayat (2) UU Nomor 21/2008 tentang Perbankan Syariah dan Pasal 3 dan Pasal 5 dan Pasal 6 UU Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.

Comments are closed.