Sidang Kasus Hoaks Ratna Sarumpaet, Ini Kata Saksi Dokter

1
228

Jakarta NAWACITA – Sidang lanjutan kasus penyebaran berita bohong dengan terdakwa Ratna Sarumpaet digelar Selasa (26/3) kemarin. Sidang di Pengadilan Negeri Jakata Selatan tersebut menghadirkan Dokter Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, Sidik Setiamihardja sebagai saksi.

Sidik adalah dokter yang melakukan penanganan operasi dan perawatan kecantikan terhadap Ratna Sarumpaet. Sidik adalah satu dari enam saksi didatangkan di persidangan Ratna pada Selasa 26 Maret 2019 oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Pada awal kesaksian, Sidik Setiamihardja mengungkapkan, dia sudah praktik di Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika sejak berdiri, 1993. Saat ini, tercatat ada empat dokter bedah plastik di sana. Operasi atau bedah plastik sendiri terbagi dalam dua bagian untuk kecantikan dan rekonstruksi.

“Kami kerjakan juga rekonstruksi, seperti akibat kecelakaan, terbakar atau akibat bawaan sejak lahir. Supaya keadaannya lebih baik,” ujar Sidik, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Ketua mejelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Joni, kemudian menanyakan apakah benar Ratna Sarumpaet merupakan pasiennya? Sidik pun membenarkannya.

Saat menceritakan proses operasi plastik terhadap Ratna Sarumpaet, dalam kesaksiannya, Sidik mengakui Ratna menjalani operasi pada tanggal 21 September 2018 lalu. Tindakan yang dilakukan pada operasi tersebut adalah penyedotan lemak dan pengangkatan kulit wajah atau facelifting bagian pipi dan kelopak mata atas.

Dibeberkan, Ratna menjalani operasi mulai pukul 19.00 hingga sekitar 22.45 WIB. Ratna ditempatkan di ruang recovery terlebih dahulu selama satu jam karena dirinya dibius total. Setelah sadar, Ratna baru dipindahkan ke ruang rawat VIP nomor B1, lantai 3, RSK Bedah Bina Estetika.

Pascaoperasi, jelas Sidik, ia sempat beberapa kali mengontrol Ratna untuk melihat kondisi penyembuhan pasiennya. Bengkak yang ada di wajah wanita berusia 69 tahun itu memang sebagai efek dari operasi.

“Tanggal 22 September siang jam 14.00 WIB itu saya kontrol dia. Tanggal 23 September, yaitu jam 19.00 WIB saya kontrol lagi. Terakhir tanggal 24 September sekitar jam 10.50 WIB saya kontrol lagi,” jelas Sidik.

Kala itu lanjut Sidik, dirinya mendatangi kamar Ratna dan memperbolehkan ibu dari Atiqah Hasiholan itu pulang. Selain alasan medis, urusan administrasi ihwal operasi plastik Ratna telah juga telah rampung.

Sidik mengatakan, pada 27 September 2019 Ratna kembali mendatangi dirinya untuk menjalani agenda pencabutan benang di bagian kelopak mata atas sekitar pukul 19.00 WIB. Juga pada tanggal 1 Oktober 2018, Ratna kembali berkonsultasi ke Sidik sekaligus mencabut benang di bagian pipi dan dekat telinga.

Ia menegaskan, tidak ada keluhan dari Ratna pascaoperasi. Memang biasanya terjadi pembengkakan setelah operasi, umumnya 2 sampai 3 hari karena luka. Ia juga menegaskan Ratna memang benar ingin merubah mukanya, jadi bukan melakukan operasi karena sakit.

“Sebelumnya wajahnya (Ratna) biasa saja. Ingin merubah mukanya. Betul (bukan karena sakit kemudian dilakukan operasi),” ujarnya.

Sidik pun mengaku, belakangan baru tahu adanya kasus hoax wajah lebam Ratna, setelah penyidik Polda Metro Jaya datang ke Rumah Sakit Bina Estetika, 2 Oktober 2018.

“Saya tidak tahu (soal beredarnya foto muka lebam Ratna). Saya baru tahu ada masalah 2 Oktober. Ada keributan, penganiayaan. Saya didatangi kepolisian 2 Oktober,” tandasnya.

Saksi lainnya yang turut dihadirkan adalah dari pihak kepolisian yakni Niko Purba, Mada Dimas, dan Arief Rahman. Sementara dari RSK Bedah Bina Estetika yaitu drg. Desak Asita Kencana dan perawat Aloysius.

Dalam kesaksian Niko Purba, Panit 1 Subdit Jatanras Polda Metro Jaya, terungkap Ratna merogoh kocek hingga Rp 90 juta untuk operasi plastik tersebut. Fakta itu diketahui saat polisi melakukan penyelidikan ke RSK Bedah Bina Estetika.

Penelusuran polisi ke rumah sakit di Menteng itu telah membongkar hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet oleh orang tak dikenal di Bandung pada 21 September 2018.

Polisi juga membuktikan kalau agenda konferensi internasional di Bandung dalam cerita Ratna hanya karangan.

Comments are closed.