Barang bukti yang disita polisi di Kantor Komura / Foto: Timlo

Nawacitapost.com – Ketua Koperasi Komura (Koperasi Tenaga Kerja Bongkar Muat Samudra Sejahtera) Jaffar Abdul Gafar membantah pihaknya melakukan pungli di terminal peti kemas (TPK) Palaran, Samarinda.

“Ada uang diambil. Kebetulan habis mencairkan dana di bank. Ini kalau dibilang, uang suap, itu belum masuk wilayah itu. Tahu-tahu langsung ada penggerebekan, tanpa bertanya. Yang mau gajian juga diambil. Itu ada yang persiapan gaji yang sudah kerja, yang sedang lewat, dan hari ke depan,” ujar Ketua Koperasi Komura, Jaffar Abdul Gafar, dalam konferensi pers di Hotel Akmani, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (19/3/2017).

Sebelumnya, tim kepolisian yang dipimpin oleh Kombes (Pol) Hengki Haryadi dan Kombes Adi Deriyan  menangkap 15 orang dan menyita kardus berisi uang tunai Rp 6,1 miliar, di Kantor Komura di di Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (17/3/2017).

Jafar Abdul Ghafar mengaku terkejut adanya kedatangan polisi di kantor Komura.

“Saya dikabari, ada polisi ke Komura, alasannya ada OTT (operasi tangkap tangan),” kata Jafar.

“Informasinya, dari orang lokal yang bekerja di pelabuhan, tapi mengaku dari Komura. Mungkin, prediksinya polisi adalah pegawai dan pengurus Komura. Tapi kan bukan, mereka murni buruh pekerja,” lanjut Jafar.

Jafar menepis penilaian biaya logistik bongkar buat barang di terminal peti kemas (TPK) Palaran sangat tinggi dan diputuskan sepihak, dimana biaya bongkar muat mulai Rp 180 ribu per kontainer.

Bila tarifnya dinilai terlalu tinggi, imbuh Gafar, pihaknya bersedia difasilitasi untuk disesuaikan harganya.

“Kalau dibandingkan masalah tarif, ini merasa tinggi. Kenapa tidak difasilitasi. Kalau ada yang tidak pas atau terlalu tinggi, mari dibicarakan. Kami tidak lepas dari aturan koperasi. Kalau khusus berkaitan dengan pungli, pemerasan, saya sependapat dimusnahkan. Ini, jangan dulu divonis sebagai pungli,” tuturnya.

Baca juga :  Pelaku Penyelundupan Sabu 60 Kilogram Ditembak Mati

Saat dicecar bahwa seharusnya bongkar muat di terminal peti kemas Pelabuhan Palaran Samarinda sudah tidak memakai tenaga manusia lagi, melainkan tenaga mesin, Gafar menjawab bahwa buruh itu yang menggerakkan tenaga mesinnya.

“Mesin alat, namun dia menggunakan alatnya. Dan tenaga kerja kan ada. Ada pemasangan pancing dan lainnya. Dulu manual. Kalau kargo, dulu dipikul. Sekarang tenaganya hanya memasang tali. Apakah itu harus dihilangkan semua, ya tidak perlu,” tuturnya. (jar)