Nawacitapost.com – Terdakwa kasus makar dan penodaan agama yang juga pimpinan organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Ahmad Musadeq alias Abdussalam, divonis lima tahun penjara karena terbukti telah melakukan penodaan agama.

Vonis tersebut dijatuhkan majelis hakim dalam sidang yang digelar pada Selasa (7/3/2017).
“Terdakwa Ahmad Musadeq alias Abdussalam terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja di muka umum perbuatan yang bersifat penodaan terhadap suatu agama di Indonesia sebagaimana dakwaan kesatu,” kata Ketua Majelis Hakim PN Jakarta Timur, Muhammad Sirad dalam agenda sidang pembacaan putusan di PN Jaktim,

Sementara itu, dua terdakwa lainnya, yakni Mahful Muis Tumanurung dan Andry Cahya masing-masing dijatuhi hukuman lima tahun dan tiga tahun penjara dipotong masa tahanan terkait dakwaan yang sama.

Menurut majelis hakim, ketiga terdakwa terbukti telah melakukan perbuatan penodaan agama yang melanggar Pasal 156a huruf a KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Vonis hukuman ini lebih rendah dari tuntutan jaksa. Jaksa menuntut Ahmad Musadeq dan Mahful Muis dengan hukuman 12 tahun penjara atas kasus penodaan agama dan makar. Sementara Andry Cahya yang merupakan putra Musadeq dituntut 10 tahun penjara.

Usai majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim) selesai membacakan putusannya, Musadeq dan kedua terdakwa lainnya tetap bersikap tenang. Bahkan usai majelis hakim keluar sidang Ahmad Musadeq melambaikan tangan.

“Kita pikir-pikir,” jawab Musadeq menangapi tawaran upaya hukum majelis hakim di PN Jaktim, Jalan Sumarno, Cakung, Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017).

Sikap berbeda diperlihatkan istri Ahmad Musadeq, Waginem, yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Wanita paruh baya itu terlihat menangis usai hakim menjatuhkan vonis. (faj)

Baca juga :  Tinjau Lokasi Acara Puncak Sail Nias 2019, Sekjen Kemenkumham : Pastikan Kita Siap

Comments are closed.