Yuk Pahami 5 Risiko Pay Later, Salah Satunya Jeratan Utang

0
224
Yuk Pahami 5 Risiko Pay Later, Salah Satunya Jeratan Utang

Jakarta, NAWACITA – Yuk pahami 5 risiko Pay Later, salah satunya jeratan utang. Indonesia Fintech Summit & Expo 2019 baru saja usai. Gelaran ini menegaskan komitmen pemerintah untuk mencapai target inklusi keuangan 75% pada akhir tahun ini.

Untuk mencapai target, salah satu usahanya, pemerintah akan membangun ekosistem fintech dan mewadahi berbagai inovasi teknologi di industri yang terus mendisrupsi penggunaan keuangan masyarakat.

Salah satu tren yang diminati belakangan ini adalah pay later. Di sini berbagai perusahaan aplikasi besar berlomba-lomba mempromosikan kemudahan untuk fasilitas beli sekarang bayar belakangan yang dapat dipakai untuk travelling, pembelian makanan, transportasi hari-hari hingga banyak produk konsumsi lainnya. Terkesan memudahkan bagi konsumen, tapi jika tidak berhati-hati risiko lilitan utang menanti.

Grant Thornton, organisasi global penyedia jasa assurance, tax, dan advisory merangkum lima risiko penggunaan pay later yang perlu dipahami sebelum menggunakan pay later sebagai berikut:

Perilaku Konsumtif Berlebihan
Tanpa disadari, kemudahan untuk beli sekarang bayar belakangan memberikan dorongan impulsif dalam keputusan pembelian yang seringkali justru jatuh kepada barang-barang yang tidak diperlukan. Jangan lupa pelaku usaha juga memiliki strategi melakukan promo untuk menghabiskan produk mereka yang tidak terlalu laku.

Biaya yang Tidak Disadari
Masyarakat, terutama milenial sangat menyukai kecepatan dan kepraktisan. Terkadang mereka tidak memahami berbagai biaya yang langsung aktif disaat mereka menggunakan fitur pay later seperti biaya subscription, biaya cicilan, dan biaya lainnya yang dapat berbeda dari tiap aplikasi. Biaya ini seringkali memberatkan disaat tagihan datang.

Pengaturan Keuangan Terganggu
Mudahnya pembelian fasilitas pay later dari berbagai aplikasi seringkali dapat mengganggu pengaturan keuangan pribadi dengan banyaknya cicilan yang datang. Dana yang disisihkan untuk membayar tagihan pay later juga dapat terpakai untuk keperluan tak terduga sewaktu-waktu, sehingga menimbulkan risiko tidak mampu bayar yang tinggi.

Penunggakan Berdampak BI Checking
Melalui BI (Bank Indonesia) checking, lancar atau tidaknya pembayaran nasabah akan terlihat jelas. Jika terjadi tunggakan transaksi pada pay later, tagihan tersebut akan menyebabkan catatan reputasi kredit yang buruk.

Hal ini akan menyebabkan pengajuan kredit lain yang sifatnya lebih penting untuk digunakan. Misalnya pengadaan properti dan kendaraan yang berisiko ditolak ke depannya.

Peretasan Identitas
Bertransaksi via digital tak luput dari bahayanya peretasan yang mengintai. Meskipun setiap aplikasi tentu sudah menyiapkan keamanan tingkat tinggi untuk penggunanya, risiko para kriminal siber mempu menemukan cara meretas database di akun transaksi pengguna dan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bertanggung jawab tetap ada.

Melihat banyaknya risiko yang mungkin timbul, perlu diimbangi juga dengan pemahaman masyarakat akan sisi positif pay later. “Yang terlihat ‘mudah’ di permukaan belum tentu ‘mudah’ selamanya. Konsumen harus pahami, telaah, dan tentukan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Substansi pay later adalah instrumen kredit yang pasti ada konsekuensi finansial yang dapat merugikan jika tidak dipergunakan secara bijaksana dan seksama,” kata Alexander Adrianto Tjahyadi, Audit and Assurance Partner Grant Thornton Indonesia.

Fitur pay later sebenarnya juga dapat menjadi opsi lain yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat dalam mengakses kartu kredit. Di mana pengajuannya harus melewati beberapa tahap yang tidak singkat

Pemahaman fitur pay later dengan baik sangat dibutuhkan agar pengguna terhindar dari jeratan utang maupun cicilan yang melilit. “Bila digunakan dengan hati-hati tentunya fitur pembayaran ini mampu mendorong peningkatan inklusi keuangan Indonesia,” sebut Alexander.