Selalu Dianggap Berbahaya, Benarkah MSG Bisa Memicu Kanker?

0
126

Jakarta,NAWACITA-Monosodium Glutamat (MSG) seringkali diidentikkan sebagai salah satu bumbu atau bahan makanan yang dapat memicu berbagai macam jenis penyakit berbahaya. Salah satunya kanker. Namun hingga saat ini, belum ada satu pun penelitian yang dapat membuktikan hal tersebut.

Bahkan, MSG atau yang kini sering disebut dengan istilah ‘micin’, diklaim memainkan peran penting dalam meningkatkan nafsu makan para pasien yang sedang menjalani perawatan intensif. Penelitian ini telah dibuktikan oleh salah satu rumah sakit di Jepang.

“Di Jepang sudah ada rumah sakit yang membuktikan bahwa MSG ampuh menambah nafsu makan. Biasanya pasien-pasien yang sudah usia lanjut akan diberikan tambahan umami atau MSG pada makanannya. Hal ini karena sel saraf di lidah mereka sudah sangat menurun, jadi nafsu makan akan berkurang,” terang Katarina Diah Larasati, selaku Section Manager Product and Nutrition Ajinomoto Indonesia, seperti dilansir Okezone, Kamis (3/10/2019).

Katarina menambahkan, dengan menambahkan MSG, cita rasa makanan justru akan menjadi lebih terasa lezat dan lambat laun akan meningkatkan nafsu makan pasien. Hasil penelitian telah membuktikan bahwa pasien yang makan dengan campuran MSG cenderung lebih aktif dan bersemangat.

Mereka tidak lagi bersandar di atas tempat tidur, dan bisa menyantap makanan yang disajikan tanpa bantuan perawat maupun anggota keluarga. Di Indonesia sendiri, penelitian tentang hubungan MSG dengan pasien rumah sakit juga pernah dilakukan.

“Waktu itu kami melakukan penelitian di salah satu rumah sakit di Medan. Jadi pasien yang rawat inap karena didiagnosa TB, diberi MSG pada makanannya. Mereka ternyata lebih cepat sembuh dibanding pasien yang tidak mengonsumsi MSG sama sekali. Karena ya itu, nafsu makan mereka menjadi lebih tinggi,” terangnya.

Katarina tidak memungkiri bahwa MSG memang berbahaya bila dikonsumsi dalam jumlah tertentu. Para peneliti asal Jepang telah melakukan percobaan mengenai hal tersebut. Mereka menggunakan metode LD 50 kepada ratusan tikus untuk melihat dampak yang ditimbulkan akibat konsumsi MSG berlebiham. Hasilnya pun cukup mengejutkan.

“Batasan yang dianggap toxic atau racun itu sekitar 600 ml. Hampir 150% tikus mati dengan dosis itu. Kalau dilakukan pada manusia, itu berarti kita harus mengonsumsi sekitar ½ kg MSG dalam satu waktu,” ungkap Katarina.

“Kontroversi MSG itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Tetapi negara-negara barat juga. Pro dan kontra terjadi mungkin karena produk ini berasal dari Jepang yang notabennya negara Asia,” tandasnya.