Fakta Penelitian, Makanan Cepat Saji Bikin Remaja Depresi

0
6

Jakarta,NAWACITA-Tingkat kecemasan dan depresi pada remaja semakin meningkat. Makanan cepat saji yang dikonsumsi anak muda ternyata memberikan kontribusi pada meningkatnya tingkat gangguan kesehatan mental yang dialami anak remaja.

Banyak remaja mengalami perubahan dalam suasana hati yang bisa kapan saja berubah. Ternyata setelah dikaitkan dengan meningkatnya kasus obesitas dan sejumlah penyakit kronis, penelitian kembali menemukan ‘efek samping’ dari terlalu sering menyantap makanan cepat saji.

Makanan siap saji adalah istilah untuk makanan yang dapat disiapkan dan dilayankan dengan cepat. Sementara makanan apapun yang dapat disiapkan dengan segera dapat disebut makanan siap saji, biasanya istilah ini merujuk kepada makanan yang dijual di sebuah restoran atau toko dengan persiapan yang berkualitas.

Penelitian terbaru menunjukkan, makanan cepat saji kini menjadi salah satu penyebab dari terjadinya depresi pada anak remaja. Di samping itu, depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang. Kondisi depresi adalah reaksi normal sementara terhadap peristiwa-peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta.

Seperti yang dilansir dari Edition, Jumat (6/9/2019), makanan cepat saji sendiri diartikan sebagai makanan alternatif yang cepat ketimbang makanan rumahan, mudah diakses dan memiliki harga yang relatif murah, menurut National Institutes of Health (NIH).

Makanan cepat saji juga cenderung tinggi lemak jenuh, gula, garam dan kalori. Di dalamnya pun bisa berupa menu cepat saji dari restauran cepat saji, makanan olahan, makanan beku, serta makanan ringan. Namun, rasanya yang gurih dan dianggap enak oleh banyak kalangan, di samping sangat mudah disajikan, membuat makanan ini menjadi pilihan di tengah kesibukan sehari-hari.

Sayangnya studi dari University of Alabama, Amerika Serikat menyimpulkan, Jika keseringan mengkonsumsi makanan cepat saji identik dengan pola makan nabati yang rendah. Pola makan yang tidak seimbang dalam waktu lama, Akan berakibat meningkatnya risiko depresi.

Dilain hal, hasil studi ini didapat setelah peneliti menganalisis urine salah satu siswa sekolah menengah dan dihubungkan dengan tanda serta gejala depresi. Dalam urine siswa yang memiliki gejala depresi ini, ditemukan kadar natrium yang tinggi dan kadar kalium yang rendah.

“Natrium yang tinggi terdapat dalam banyak makanan yang melewati banyak proses pengolahan, termasuk makanan cepat saji, makanan beku, dan makanan ringan yang tidak sehat,” ujar peneliti Sylvie Mrug.

Sedangkan rendahnya jumlah kalium merupakan indikasi dari pola makan rendah sayuran dan buah, seperti bayam, tomat, kacang-kacangan, jeruk, alpukat, dan yogurt. Kadar natrium yang tinggi dan kalium yang rendah ini dikaitkan dengan muncul tanda-tanda depresi hingga satu setengah tahun ke depan.

Hasil ini tetap kuat bahkan setelah peneliti menyesuaikan dengan variabel lain seperti tekanan darah, berat badan, usia, dan jenis kelamin. Artinya, pengaruh efek makanan cepat saji terhadap depresi tetap kuat tak bergantung bagaimana kondisi tubuh.

“Temuan penelitian ini masuk akal, karena makanan kaya kalium adalah makanan sehat. Jadi, jika remaja mengonsumsi lebih banyak makanan kaya kalium, mereka akan memiliki lebih banyak energi dan merasa lebih baik secara keseluruhan, yang dapat mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik dan peningkatan kesehatan mental,” kata ahli nutrisi Lisa Drayer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here