Kepemimpinan Periode Gomar Bukan Memperbaiki? Diduga Malah Menjual RS PGI Cikini

0
1250
Gomar Gultom, RS PGI Cikini, dan Sandia Uno pemilik baru RS Cikini.Foto Kolase.
Jakarta, NAWACITAPOST –  KETIKA nawacitapost.COM menghubungi Ketua Umum Persekutuan Gereja- Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar Gultom melalui WhatsApp (WA) selasa (29 Juni 2021) sore, terkait merebaknya kabar penjualan RS PGI Cikini. Mantan Sekum PGI dua periode itu hanya menjawab lihat saja link PGI, sambil mengatakan ini yang benar (Transformasi RS.PGI CIKINI Menjadi Rumah Sakit Modern).
Baca Juga : Politik” Gomar Gultom Mencari Panggung KPK,  Kandas dan ‘Memalukan’ PGI

Artinya penjualan RS PGI Cikini itu memang terjadi. Tetapi keputusan penjualannya melalui sidang raya PGI di Waingapu. Melibatkan 91  Sinode Gereja. Begitu benang marah dari link berita pgi.or.id. yang diaminkan Gomar. Jawaban itu berupa chat WA nawacitapost dengan Ketum PGI Gomar. Sementara, ketika nawacitapost menghubungi untuk berbicara melalui sambungan WA, tidak dijawab.

Jawaban Ketum PGI Gomar Gultom yang dihubungi nawacitapost, melalui WA, Selasa (29/6/2021) sore.

Alasannya. RS PGI Cikini merugi sejak tahun 2017 hngga 2019  secara akumulatif sebesar  77 Miliar Rupiah,  dan hutang RS PGI CIKINI per Desember 2020 sebanyak 52 Miliar Rupiah, sementara kewajiban dana pensiun sejumlah Rp. 58 M. sehingga totalnya 110 Miliar Rupiah.

Alasan lainnya, dari total luas RS PGI Cikini yang 5,5 hektar, katanya disewa (baca : Pemiliknya Sandiaga Uno Cs) 1 hektar disewa selama 30 tahun dan akan dibangun di atas tanah tersebut 14.0000 meter persegi, yaitu 10.0000 RS dan 4000 parkiran. Sedangkan 4,5 hektar milik RS PGI Cikini.

Ini Chat WA Ketum PGI Gomar Gultom dengan nawacitapost, Selasa (29/6/2021) sore.

Jika alasan RS PGI Cikini karena merugi. Menurut sumber yang dokumen pendukungnya diberikan kepada Dr. Christo Fernando dan Christie Damayanti. Dijelaskan bahwa, merugi ya, tapi pendapatan RS PGI Cikini dari BPJS 100 miliar rupiah belum dibayarkan pihak pemerintah, lalu diakui juga dari link PGI.or.id bahwa RS PGI Cikini jadi rujukan covid 19. Berarti ada pemasukan.

Terdengar kabar, bahwa adanya BOT-Build-Operate-Transfer  ini tidak melibatkan manajemen RS PGI Cikini. Yang jelas, BOT itu ada dan terjadi. Dibahas di sidang raya PGI 2019, dan ditanda tangani 25 Juni 2021. Sehingga menurut  pemerhati dan peduli RS PGI Cikini Max Wilar bahwa BOT-Build-Operate-Transfer yang ditanda tangani 25 Juni 2021 harus dibatalkan.

Padahal Gomar itu hampir 16 tahun  lebih berkecimpung di PGI. Mulai dari Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, Sekum dua periode, dan kini Ketua Umum. Sedangkan di RS PGI sebagai Ketua Dewan Pembina.

Jadi kepemimpinan Gomar harusnya mampu mengatasi riak dan gejolak yang timbul dari berbagai kalangan. Entah itu Sinode, hamba Tuhan, dokter dan pengamat serta aktivis gereja.

Padahal belum lama ini, Gomar juga sempat viral karena menerima Novel Baswedan dan kesannya membela. Sampai-sampai mengatakan bahwa Presiden Jokowi harus turun tangan terkait Tes Wawasan Kebangsaan KPK.

Intinya, RS PGI Cikini memang dijual?  Pengalihan manajeman RS baru berlaku secara otomatis.  Jadi, nama RS PGI Cikini tinggal kenangan. Hanya ada 4,5 hektar miliknya sementara yang 1 hektar berdiri kokoh nama RS baru (Non RS PGI Cikini), dan RS PGI Cikini itu hanya  mampu bertahan selama 123 tahun saja. Lenyap namanya di era Gomar?