Jakarta, Nawacitapost – Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono memprediksi, puncak Covid-19 akan jatuh pada akhir Mei atau awal Juni 2020 dengan jumlah kematian dan kasus positif mencapai ratusan ribu.

Ditegaskan Riono, Pemerintah harus segera melakukan intervensi yakni tes massal menggunakan polymerase chain reaction (PRC) karena Indonesia belum cukup melakukan intervensi untuk menangkal penularan. Selain itu, pemerintah juga harus ketat menerapkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Jangan menunda-nunda karena intervensi ini bisa menurunkan puncak. Jika diintervensi, korban di Indonesia tidak mencapai ratusan ribu, tapi di bawah sekitar 100.000 saja. Dengan demikian rumah sakit bisa menampung dan kurva menjadi lebih rendah,” ujar Riono kepada Beritasatu, Selasa (14/4/2020) petang, yang dilansir juga oleh Law Justice Portal Berita dan investigaai, pada Rabu (15/4)

Intervensi yang dimaksudnya adalah pemerintah harus segera melakukan screening test pada penduduk yang berisiko dengan metode PCR. Pasalnya, hanya PCR yang bisa mendeteksi dengan akurat dan sedini mungkin. Setelah dideteksi, pasien yang terpapar Covid-19 bisa melakukan isolasi dan mencegah penularan.

Menurut Riono, tes massal ini penting karena data yang dilaporkan juru bicara Covid-19 setiap harinya adalah data yang dihimpun dari RS yang merawat pasien positif Covid-19. Sementara jumlah pasien yang sedang menunggu hasil tes dan masih antre untuk melakukan tes sangat banyak. Bahkan, ada yang belum sempat melakukan tes tetapi keburu meninggal dunia.

“Jadi kalau kita melaporkan misalnya jumlah yang terpapar Covid-19 hampir lima ribu, sebagian yang dilaporkan hari ini adalah hasil tes lima hari atau seminggu yang lalu,” kata Riono.

Menurut Riono, untuk memperoleh data akurat, seharusnya dilakukan pendataan jumlah masyarakat terpapar mulai dari yang belum mendapat hasil, masih dalam antrean tes, pasien dalam pantauan (PDP), hingga yang terkubur setiap harinya. Hal ini juga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Italia. Kedua negara ini setiap ada kematian selalu didata.

Baca juga :  Panglima TNI dan Kapolri tinjau pelaksanaan Vaksinasi di Natuna

“Angka Covid-19 Indonesia kalau hanya mengandalkan data laporan harian seperti itu tidak bisa melihat seberapa besar masalah yang sesungguhnya,” ujar Riono. Law Justice/beritasatu.com

Comments are closed.