Melawan Stigma Corona, Najwa Shihab Dukung Statement dr. Edy Suyanto

0
845

Jakarta, Nawacitapost – Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal dr. Soetomo Surabaya, dr. Edy Suyanto, SpF., S.H., M.H. menyatakan secara ilmiah ilmu kedokteran, korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Apalagi virus Corona, dia (virus Corona) harus hidup pada inangnya. Inangnya sudah mati, virusnya juga ikut mati. Sama dengan HIV/AID dan sama dengan H5N1 (flu burung).

Najwa Shihab sepertinya mendukung dr. Edy Suyanto, namun sebaliknya secara tidak langsung kurang mendukung penuh apa yang disampaikan dr. Ari Fahrial Syam Spesialis Penyakit Dalam, yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang dilansir Liputan6, edisi 29 Mret 2020, dengan judul “Waspada, Virus Corona Baru Tetap Berisiko Menular dari Jenazah Pasien COVID-19”.

Kendati dinyatakan dr. Ari Fahrial Syam, Covid-19 tetap berpotensi menularkan penyakitnya meski sudah meninggal. Jenazah seseorang yang positif atau pasien dalam pengawasan Covid-19, harus dimandikan di rumah sakit dan mendapatkan protokol kesehatan yang ada. Petugas harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) yang lengkap, dengan masker N96, kacamata goggle, topi lengkap, tertutup semua. Meski sudah meninggal dunia, jenazah masih berpotensi menularkan penyakitnya lewat air yang keluar dari tubuh pasien. Proses penguburan pun juga harus dilakukan berbeda dari pemakaman pada umumnya seperti pemberlakuan pembatasan jarak hingga pemakaian APD pada petugas pemakaman. Harus berjarak, karena bisa saja dalam proses tersebut ada percikan-percikan dari tubuh jenazah.

Namun dalam rekaman video Najwa Shihab yang beredar di medsos dan diterima Nawacitapost, Kamis (9/4) berdurasi 1 menit 49 detik menyatakan, jelas itu dan jelas tidak menularkan. Dalam rekamannya juga menyebutkan bahwa pasien positif Covid-19 akhirnya meninggal, saat mereka sakit tidak boleh dijenguk oleh keluarganya.

“Proses pemakamanan dilakukan dengan cara tertentu dan yang bisa menghadirinya juga terbatas, masa tega saat keluarga hendak mendoakan di pemakaman diperlakukan seperti itu,” tandas Najwa.

Lanjut Najwa, “Jadi kalo kita mengusir, kalo kita mengucilkan, kalo kita menghakimi, atau menstigmatisasi korban corona itu jelas berbahaya karena siapapun yang merasakan gejalanya jadi enggan melapor dan memeriksakan diri,” terangnya.

Namun ditegaskan presenter, “Jika mereka enggan melapor karena takut diusir dicemoh dan dihakimi yang rugi kita semua, virus jadi tidak terdetekssi sehingga menyulitkan untuk memutus rantai penyebarannya. Ingat jargon lama jauhi penyakitnya bukan orangnya, seharusnya ini jadi pegangan kita. Cukup dengan jaga jarak jangan diusir atau dikucilkan .

Dengan demikian disampaikan Najwa Shihab kepada teman – teman, bahwa wabah ini diprediksi masih akan berlangsung panjang, gonjangan-gonjangan sosial juga akan terjadi. Dan inilah saatnya memperkuat solidaritas.

“Jarak fisik memang harus direnggangkan tapi ikatan sosial justru harus dirapatkan, kita tidak bisa sendirian mengatasi wabah ini. Hari ini soliter seharusnya solider, jaga jarak dengan penyakit bukan dengan kemanusiaan,” imbuhnya.