Banyak Pasien Gangguan Jiwa Bunuh Diri Meski Sudah Terapi, Kenapa?

0
94

Jakarta,NAWACITA-Kasus bunuh diri merupakan penyebab kematian nomor dua terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun. Berdasarkan data nasional yang dilakukan oleh Badan Litbangkes menunjukkan terjadinya peningkatan masalah kesehatan jiwa pada 2018.

Hasil survei dari Sistem Registrasi Sampel (SMS) pada 2016 menunjukkan bahwa ada 1.800 kematian karena bunuh diri di Indonesia. Jika dirata-ratakan ada sekira lima kematian setiap harinya.

Sementara secara global, World Health Organization (WHO) mencatat hampir 800 ribu orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya. Itu berarti ada sekira satu kematian dalam kurun waktu 40 detik. Alhasil kasus bunuh diri menjadi perhatian penting untuk diatasi.

Seperti diketahui kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh gangguan jiwa akibat skizofrenia, depresi dan penggunaan alkohol. Beberapa pasien gangguan jiwa telah menjalani pengobatan namun masih banyak pula yang bunuh diri.

Spesialis Kedokteran Jiwa dan Psikiater, dr. Agung Frijanto Sp-KJ pun akhirnya angkat bicara untuk menjelaskan fenomena ini. Menurutnya penyebab manusia melakukan bunuh diri disebabkan oleh multifaktor. Salah satunya adalah pengaruh eksternal.

“Kami kan hanya berupaya berikhtiar dengan mengobati. Tapi kan kita tidak tahu apakah mereka mendapat support sistem dari keluarga, minum obat rutin atau tidak? Manusia ini terdiri dari banyak faktor (multifaktor) jadi hal itulah yang tergantung dalam keberhasilan sebuah terapi,” tutur dr. Agung, dalam acara Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Senin (7/10/2019).

Dokter Agung menjelaskan kasus bunuh diri banyak terjadi di kalangan anak kecil dan remaja. Oleh sebab itu metode pendekatan bisa menjadi solusi efektif untuk mengurangi kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia.

“Masalah bunuh diri banyak terjadi pada anak kecil dan remaja. Jadi kami melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah. Kalau pada anak SD kita banyak berdialog dengan guru dengan mencermati secara dini perubahan perilaku seorang anak akibat bullying atau retardasi mental,” lanjutnya.