Indonesia Jadi Satu-satunya Pusat Kolaborasi Nuklir Dunia

1
104
Indonesia Jadi Satu-satunya Pusat Kolaborasi Nuklir Dunia

Jakarta, NAWACITA – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) saat ini menjadi satu-satunya institusi di dunia yang ditunjuk oleh Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai pusat kolaborasi atau collaborating center pengembangan teknologi nuklir.

“Ini sebenarnya capaian yang bagus untuk Batan karena selama ini tidak ada collaborating center yang dimiliki oleh suatu negara, ini adalah satu-satunya terkait uji nuklir tak merusak dan pemuliaan tanaman,” kata Deputi Kepala BATAN Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir Efrizon Umar seperti yang dilansir Antara, Selasa (3/12).

Baca Juga: Membangun Hukum Dalam Menjawab Perkembangan Teknologi

Dengan penunjukan sebagai collaborating center, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir Indonesia diakui dunia. Indonesia juga menjadi acuan maupun rujukan bagi banyak negara di kawasan Afrika dan Asia-Pasifik untuk mempelajari pemanfaatan iptek nuklir termasuk untuk peningkatan produktivitas pangan.

Efrizon mengatakan negara-negara di Asia dan Afrika dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk penguasaan iptek nuklir di bidang pertanian.

“Di antaranya perwakilan dari Burkina Faso, Nigeria, Tanzania datang ke BATAN Pasar Jumat untuk mengadopsi kemampuan kita dalam pemuliaan tanaman,” ujarnya.

Negara-negara di kawasan Afrika yang datang ke Indonesia juga belajar dan mengadopsi teknologi tentang pemuliaan tanaman yakni sorgum yang merupakan makanan pokok di wilayah Afrika.

Baca Juga: Perkembangan Teknologi Informasi Jadi Sarana Penyebaran Paham Radikal

Indonesia dipilih sebagai collaborating center untuk nuklir dan tanaman karena dinilai memiliki kapasitas baik dalam fasilitas seperti laboratorium maupun sumber daya manusia serta reputasi baik dalam pemanfaatan nuklir bidang pertanian.

Batan berhasil menciptakan varietas-varietas unggul dengan teknik pemuliaan tanaman dengan radiasi gamma. Dengan varietas unggul itu, produktivitas pertanian meningkat dan pendapatan petani bertambah sehingga kesejahteraan mereka makin meningkat.

Pada 2014, untuk pertama kali IAEA menetapkan Batan sebagai pusat kolaborasi bidang pemuliaan tanaman, kemudian penunjukan itu diperbarui setiap empat tahun dan Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang mengurusi teknologi nuklir itu terpilih kembali sebagai pusat kolaborasi di bidang pemuliaan tanaman pada 2017.

Baca Juga: ITERA Bahas Teknologi dan Infrastruktur Ramah Lingkungan

Sementara, sejak 2015 Indonesia ditunjuk oleh  sebagai pusat kolaborasi untuk bidang uji tak rusak. Pada 2014, Batan juga mendapatkan penghargaan Outstanding Achievement Award on Plant Mutation Breeding dari IAEA. Dengan demikian, lembaga itu dijadikan sebagai pusat kerja sama IAEA untuk penelitian dan pengembangan pertanian berbasis iptek nuklir di kawasan Asia-Pasifik.

Negara negara Afrika yang tergabung di skema AFRA IAEA tertarik untuk mempelajari pemanfaatan Iptek nuklir di kawasan regional lainnya, salah satunya adalah regional Asia Pasifik, khusus untuk regional Asia Pasifik.

Sejak penunjukan sebagai collaboration center, Batan diklaim memberikan pelatihan di bidang iptek nuklir untuk pemuliaan tanaman dan mengirimkan ahli.

Pelatihan yang diberikan antara lain pada 4 hingga 15 Nopember 2019, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Batan memberikan pelatihan kepada 32 peneliti dari negara-negara Asia-Pasifik dan Afrika terkait ilmu pemuliaan mutasi tanaman.

Peserta pelatihan yang hadir berasal dari  China, India, Bangladesh, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Malawi,  Mongolia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Sri Lanka dan Togo.

Melalui implementasi teknologi nuklir, Indonesia menghasilkan berbagai varietas unggul seperti padi, kedelai, kacang hijau,sorgum, kacang tanah, kapas, dan gandum tropis.

Baca Juga: Sim Online dan Smart SIM, Teknologi Digital yang Memudahkan

Menanggapi hal itu, pakar nuklir Universitas Gadjah Mada (UGM) Yudi Utomo mengatakan terpilihnya Batan sebagai pusat kolaborasi oleh IAEA adalah hal yang baik.

“Pusat kolaborasi itu sifatnya dunia. Malah bagus, artinya menunjukkan peran kita di tingkat dunia,” ujar dia.

Bahkan, menurut dia, ada satu bidang yang banyak dipelajari, bahkan orang-orang Indonesia terlibat di tingkat dunia yaitu produk di bidang energi misalnya pembangkit listrik. Meski untuk saat ini memang pemanfaatan ilmu tersebut lebih banyak diterapkan di luar negeri.

Comments are closed.