Semakin Banyak Melakukan Hubungan Seks, Pasangan Akan Bahagia

0
224
Semakin Banyak Melakukan Hubungan Seks, Pasangan Akan Bahagia

Jakarta, NAWACITAPOST- Berhubungan seks dengan pasangan secara teratur, penting untuk kesehatan. Tapi pertanyaan yang kemudian muncul adalah, seberapa sering seharusnya hubungan seks dilakukan oleh pasangan menikah?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul untuk mencari tahu apakah hubungan pasangan suami istri masuk dalam kategori sehat, atau justru tidak sehat?

Hal tersebut terkait dengan intensitas hubungan seks yang kurang, atau bahkan terlalu berlebih.  Pertanyaan tentang frekuensi hubungan seksual biasanya muncul ketika salah satu pasangan kurang puas dengan jumlah hubungan seks yang dilakukan. Tingkat keinginan yang tidak sesuai ini terjadi di mana salah satu pasangan menginginkan lebih atau yang lainnya ingin mengurangi. Kondisi ini umum terjadi dalam ikatan pernikahan.

Dr. Barbara Winter, seorrang psikolog berlisensi dan sexologist klinis mengatakan. Kepuasan dalam perkawinan tidak hanya dihitung dari frekuensi seksual. Faktanya, pasangan yang sudah menikah melihat kualitas interaksi seksual, dan bukan hanya kuantitasnya saja.

Baca Juga : Covid-19 Bisa Bertahan di Layar Ponsel dan Uang Kertas Dalam Suhu 20° Celcius

Pertama dan terpenting, penelitian tentang kepuasan perkawinan sangat rumit untuk dilakukan. Hal ini sering kali disebabkan oleh desain eksperimen atau cara pengumpulan data yang berbeda.

Meskipun demikian, masyarakat masih membutuhkan sesuatu sebagai alat ukur, dan penelitian menunjukkan bahwa ;

1.Umumnya, ada penurunan frekuensi dan kepuasan karena pasangan sudah lebih lama bersama.

2.Frekuensi seksual berkurang jika mempertimbangkan faktor lain, seperti pekerjaan, pekerjaan rumah, anak-anak, faktor fisik atau fisiologis, dan masalah relasional lainnya.

seksual berkurang jika mempertimbangkan faktor lain, seperti pekerjaan,

3. Frekuensi seksual dan kepuasan seksual keduanya tidak berhubungan dengan tingkat perceraian.

tidak berhubungan dengan tingkat perceraian.

Kebahagiaan bisa terjadi pada mereka yang melakukan hubungan seksual satu kali dalam seminggu.

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2015 mengamati lebih dari 2.400 pasangan menikah. Dari sana ditemukan, semakin banyak hubungan seks yang dilakukan pasangan, mereka akan semakin bahagia. Mengapa ideal dilakukan sekali seminggu?

Sebenarnya, seks sekali atau dua kali sebulan mungkin tidak cukup, tapi lebih dari sekali seminggu tidak meningkatkan kebahagiaan lebih jauh. Faktanya, dalam penelitian lain baru-baru ini, pasangan yang diinstruksikan untuk melipatgandakan jumlah hubungan seks ternyata tidak lebih bahagia dari sebelumnya. Itu terjadi dalam tingkat hubungan seks mereka yang biasa.

Lebih lanjut, mereka melaporkan adanya kenikmatan seks yang justru berkurang. Tampaknya ada sisi negatif dari terlalu banyak melakukan hubungan seks. Padahal, seperti kita tahu, kepuasan seksual penting untuk diutamakan demi tahap hubungan tertentu, terutama pada pasangan yang sudah lama menikah.

Tingkatkan kehidupan seks dengan pasangan. Demi kehidupan seks yang sehat, sebaiknya memperhatikan kualitas daripada kuantitas. Yang artinya, tak peduli berapa kali kita melakukan hubungan seks, yang terpenting adalah kepuasan satu sama lain.

Jika hal ini bermasalah, kita tentu bisa mencoba mencari jalan keluarnya. Terapis pasangan menyarankan hal-hal seperti menjadwalkan seks, mengubah tempat, melakukan perjalanan jauh dari ruang keluarga, membumbui atau bahkan menghidupkan kembali kencan romantis. Namun sayangnya, hal ini belum tentu berhasil pada semua orang.

Kadar testosteron tertinggi di pagi hari, kerap menjadi pilihan para pasangan untuk melakukannya sesaat setelah bangun tidur. Jika itu juga tidak berhasil, kamu bisa mempertimbangkan untuk mengunjungi terapis seks atau psikolog. Pasalnya, hasrat seksual seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, penuaan, kewajiban keluarga atau anak, hormon, dan masalah medis. Lalu ada pula faktor pengobatan, ketertarikan fisik, masalah citra tubuh, depresi atau kecemasan, masalah relasional, masalah keyakinan, dan kekhawatiran situasional.

Kalau kita pernah mengalami masa-masa tak bergairah, mengembalikan ritme akan membantu aliran hormon pengikat seperti oksitosin dan vasopresin. Keintiman dan seks saling terkait. Sehingga, terkadang hanya ini yang dibutuhkan pasangan untuk kembali ke jalur yang benar.

Ingat, yang penting bukanlah berapa kali kamu berhubungan, tapi kepuasan satu sama lain yang penting diperhatikan.