Fornisel: Kepariwisataan Nias Harus Terkonsep Menuju Kategori ACTA 2019

0
200
Sekjen Fornisel Beesokhi Ndruru (tengah) bersama dengan pemuda pemudi Nias berpose dengan latar rumah ada Nias tertua dan Hombo Batu (Lompat Batu) di Desa Bawamataluo, Nias Selatan.

Reporter Juan

Jakarta, NAWACITA-Forum Nias Selatan (Fornisel) mengingatkan pemerintah daerah di Kepulauan Nias membangun konsep kepawisatawaan yang bisa masuk dalam kategori  Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018.

Hal ini disampaikan oleh sekjen Fornisel Beesokhi Ndruru kepada Nawacitapost melalui sambungan telepon, Senin, (3/12).

Menurutnya, Potensi wisata di Kepulauan Nias yang sangat mengagumkan baik dari budaya, peninggalan sejarah maupun alamnya. Maka selayaknya destinasi wisata di Kepulauan Nias menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Kita ada pariwisata laut berupa surfing. Punya wisata sejarah dan budaya yaitu Hombo Batu atau orang kenal dengan sebutan Lompat Batu,” katanya.

Belum lagi dengan wisata alam lain yang tersebar karena posisi kepulauan Nias yang dikelilingi oleh Lautan. Banyak sekali pantai-pantai di Kepulauan Nias yang bisa menjadi objek wisata untuk tourist lokal maupun mancanegara.

“Ada pantai dengan pasir putih dan merah di Nias Utara. Ada pula bibir pantai yang pasirnya berbunyi. Namun semuanya masih belum dikelola dengan profesional sebagai objek wisata,” ucapnya.

Selama ini kata Beesokhi, pariwisata di Kepulauan Nias masih mempunyai model dan konsep sehingga kurang menjadi lirikan untuk mendatangkan tourist.

“Banyuwangi bukan hanya alamnya tapi budaya yang dihadirkan untuk wisatawan sehingga mereka datang ke sana. Begitu pula dengan Lombok yang memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para wisatawan untuk menikmati keindahan pantai dan lautnya. Mungkin ini bisa kita contoh,” terangnya.

Ditambahkanya, dengan adanya program ISTA dari Kementrian Pariwisata. Pemerintah di Kepulauan Nias bisa melaksanakan program kepariwisatawan yang lebih berkelanjutan.

“Nias sebagai pulau Impian bisa terwujud jika program pariwisatanya lebih teratur dan terencana,” ungkap Beesokhi.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata mengumumkan 17 pemenang Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) 2018 sebagai sebuah program yang bertujuan membangun kesadaran pengelola destinasi pariwisata berkelanjutan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan bahwa ISTA diadakan untuk mensosialisasikan prinsip pariwisata berkelanjutan ke seluruh stakeholders pariwisata. Penilaian ISTA mengacu pada Permenpar No. 14 Tahun 2016 yang diadopsi dari kriteria GSTC (Global Sustainable Tourism Council).

“Indikator penilaian sudah standar internasional. Ini yang  harus dipakai jika mau diakui secara internasional kita harus pakai standar bertaraf internasional,” ujar Arief dalam keterangan tertulis, Minggu (2/12).

Acara puncak ISTA 2018 digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat  (30/11/2018). Pada kesempatan ini, Kemenpar mengumumkan 17 pemenang ISTA 2018 yang akan dijadikan destinasi wisata berkelanjutan kelas dunia.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan