Tonny Nainggolan, Kalapas Kelas I Cipinang Jelaskan Penerapan Asimilasi Narapidana

0
95
Foto : Kalapas Kelas I Cipinang Tonny Nainggolan dan Kasi Bimkemas Boy Guntur Sagara

Jakarta, NAWACITAPOST – Tonny Nainggolan, Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas I Cipinang pada Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) menjelaskan penerapan asimilasi narapidana. Namun sebelumnya harus mempertimbangkan aturan asimilasi. Apabila termasuk kategori kejahatan luar biasa seperti tipikor, pedofilia, teroris dan bandar narkoba. Asimilasi pun melihat masa pidana. Adapun setelah pelaksanaan asimilasi, dilakukan Pembebasan Bersyarat hingga akhirnya bisa dinyatakan bebas.

BACA JUGA: SBY Diduga Terlibat Mega Skandal Century, KPK Dituntut Keadilan

“Asimilasi itu yang sudah menjalani setengah masa pidanannya. Kemudian 2/3 itu untuk masa integrasi Pembebasan Bersyarat (PB). Jadi hal yang berbeda. Tetapi untuk Pembebasan Bersyarat itu dia harus asimilasi dulu. Asimilasi kita lakukan dulu untuk warga binaan di rumahnya. Nah menyusul nanti untuk usulan integrasi PBnya. Jadi setengah masa pidana kita keluarkan asimilasi dirumah, nanti sambil kita proses integrasi Pembebasan Bersyarat di 2/3 masa pidananya. Jadi pada saat dia asimilasi dirumah, kita proses juga Pembebasan Bersyarat,” terang Tonny.

Foto : Kalapas Kelas I Cipinang Tonny Nainggolan

Asimilasi hingga menuju PB tidaklah gampang. Lantaran Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) diberikan pendampingan baik secara langsung atau tidak langsung. “Pendampingan ada secara langsung tatap muka dan ada secara virtual daring. Setelah kita serahkan ke Balai Pemasyarakatan untuk ditindaklanjuti atau pembinaan lanjutan artinya hampir seluruh tanggung jawab pengawasannya sudah ada di pihak Bapas bersama Kejaksaan dan Pemerintah setempat. Itu untuk kasus yang non PP 99 atau pidana yang ditentukan seperti yang dikecualikan Permenkumham no 32 tahun 2020. Misalnya pembunuhan kriminal 10 tahun bukan sadis. Di Litmas (Penelitian Kemasyarakatan) bisa diberikan asimilasinya,” tutupnya. (Martin Buulolo/Ayu Yulia Yang)