Suami Perdagangkan Istri, Terancam Penjara 12 Tahun

0
171
Foto : Ilustrasi suami perdagangkan istri

Jakarta, NAWACITAPOST – Seorang pria (28) di Darwin, Australia terancam penjara 12 tahun setelah diduga memperdagangkan istrinya sendiri ke India. 26 September 2020, Polisi Federal Australia (AFP) melakukan penyelidikan. Yang mana dilakukan setelah mendapat petunjuk dari masyarakat di Darwin. Pria diduga melakukan pelecehan fisik terhadap istrinya yang berusia 27 tahun. Mengancamnya agar memberinya gaji, akses ke rekening bank dan uang dari keluarganya sebesar 60.000 dolar (Rp 896 juta). Dia juga dituduh menipu istrinya untuk terbang ke India pada Februari 2019. Yaitu dengan asumsi dia mengatur visa untuk bepergian ke AS. Namun ternyata terdakwa tidak ikut bepergian ke India bersamanya. Pihak berwenang menuduhnya. Kemudian memberikan informasi palsu. Menyesatkan di Pengadilan Federal, tempat dia memulai proses perceraian pada Januari.

BACA JUGA: Adriel Lahagu, Bayi Penderita Kanker Butuh Uluran Tangan Kasih

Foto : Ilustrasi suami perdagangkan istri

Dia menghadap Pengadilan Lokal Darwin pada Jumat. Didakwa dengan satu tuntutan. Yakni memperdagangkan seseorang, yang memiliki hukuman maksimal 12 tahun penjara. Perdagangan manusia, perbudakan dan praktik serupa perbudakan terjadi di Australia. Semua diharapkan untuk bekerja sama melindungi orang – orang yang rentan terhadap jenis kejahatan eksploitatifMerupakan pengingat bahwa memaksa seseorang untuk meninggalkan Australia dengan menggunakan paksaan, ancaman, atau penipuan adalah pelanggaran. Terutama menurut Undang – Undang (UU), pelanggaran dan hukuman perdagangan manusia Persemakmuran berlaku. Dikatakan oleh Inspektur Detektif Komando Utara AFP Paula Hudson.

BACA JUGA: PSI Dukung Jokowi, Bukan Minta Jatah Parlemen Negeri

Foto : Ilustrasi suami perdagangkan istri

Korban kini telah kembali ke Australia. Menerima dukungan Polisi Federal Australia AFP dan Palang Merah.  Polisi Federal Australia sudah menerima 223 laporan perdagangan manusia, perbudakan dan pelanggaran serupa perbudakan pada 2019 dan 2020. Kawin paksa adalah laporan nomor satu selama delapan tahun terakhir. Dalam satu kasus, sebuah keluarga Sudan dihentikan dua kali di bandara. Terlebih saat mencoba untuk membawa putrinya yang di bawah umur ke luar negeri untuk dinikahkan. Tergolong praktik yang tidak unik untuk satu negara atau budaya tertentu dengan 48 kebangsaan. Yang mana terwakili dalam laporan di sini di Australia. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?