Insan Pers Perlu Sadar Pentingnya UKW Muda

0
182
Foto : penutupan UKW angkatan ke 48

Jakarta, NAWACITAPOST – Insan pers atau disebut juga wartawan perlu sadar pentingnya Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ada 3 tahapan dalam UKW. Yaitu wartawan muda, madya dan utama. Baru saja dilaksanakan UKW Muda selama dua hari. Dilaksanakan oleh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jaya provinsi DKI Jakarta. Dimulai dari 12 hingga 13 September 2020. Terlaksana di gedung Prasada Sasana Karya, PWI Jaya. Berlokasi di jalan Soeryopranoto, Jakarta Pusat. Pandemi Covid 19 menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan UKW Muda. Dibagi menjadi dua kelas. Total peserta ada 11 orang. Yang mana ada dari beragam media massa yang mengikuti. Ada 10 sesi mata uji dalam UKW Muda.

BACA JUGA: Syekh Ali Jaber, Hafizh Quran dan Imam Madinah Usia Belasan

Foto : Para penguji UKW ke 48 (Firdaus Baderi, Sayeed Iskandar, Mahaeka)

Sesi pertama mengenai pemahaman kode etik jurnalistik, UU (Undang – Undang) Pers no. 40 tahun 1999, media sosial, Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) dan koreksi pelanggaran dalam penulisan pemberitaan. Sesi kedua diisi dengan rencana usulan liputan. Berupa tema, topic, acuan, angle atau sudut pandang, narasumber dan daftar pertanyaan. Dilanjutkan sesi berikutnya rapat redaksi. Rapat redaksi berisi mengutarakan liputan untuk diusulkan. Tentunya akan ada perbaikan dari penguji yang berperan sebagai redaktur. Selanjutnya sesi menyiapkan isi rubrik. Berupa judul, alasan, sudut pandang atau angle, follow up selanjutnya dan dampak pemberitaan.

BACA JUGA: Lagi – Lagi Uang, Ikatan Notaris Indonesia (INI) Bila Perlu Dibubarkan

Foto : Para peserta dan penguji

Berikutnya sesi jumpa pers. Peserta diminta untuk mendengarkan seksama jumpa pers. Lalu diberikan waktu untuk bertanya usai jumpa pers, peserta tidak diperkenankan menyela saat adanya narasumber jumpa pers sedang memberikan penjelasan. Dilanjutkan dengan sesi wawancara cegat. Ketika jumpa pers sudah selesai, diperkenankan bertanya di wawancara cegat atau doorstop. Selanjutnya sesi menulis berita hasil dari jumpa pers. Minimal 100 kata untuk 4 paragraf. Selanjutnya sesi menyunting berita sendiri. Dimaksudkan berita yang sudah ditulis tadi bisa disunting lagi oleh peserta. Tentunya agar adanya perbaikan dari semula.

BACA JUGA: Trend Baru Poliandri Kalangan ASN Bisa Dinonjobkan, Bagaimana Non ASN?

Foto : prosesi penutupan UKW angkatan ke 48

Berikutnya sesi wawancara tatap muka. Peserta ditunjuk penguji berpasangan untuk berperan sebagai narasumber dan wartawan. Dilihat tata cara dan etika bertanya. Kemudian dilanjutkan dengan sesi jejaring. Sesi jejaring adalah peserta diminta mencantumkan kontak yang dimiliki sebagai database. Database yang dimaksud adalah yang pernah berkomunikasi dengan insan pers bersangkutan. Bisa dikatakan punya kedekatan dalam hal relasi narasumber. Penguji akan meminta peserta menelpon database kontak yang dicantumkan. Tentu saja penguji akan minta secara acak sesuai keinginan penguji.

BACA JUGA: Pilkada 2020 Kepulauan Nias, Tak Ada Jaminan Incumbent Menang

Foto : para peserta UKW angkatan ke 48

Bertindak sebagai penguji adalah Sayid Iskandarsyah dan Firdaus Baderi bersama Mahaeka. UKW Muda ditutup oleh Direktur UKW, Rajab Ritonga. Dimoderatori oleh Kesit B. Handoyo, Sekretaris PWI Jaya provinsi DKI Jakarta. Kesit B. Handoyo mengatakan pada 13 September 2020 di ruang kantor PWI Jaya. UKW bukanlah wajib namun menjadi penting buat teman – teman wartawan. Para wartawan yang belum tahu benar mengenai kode etik jurnalistik, UU Pers no. 40 tahun 1999, PPRA dan media sosial bisa lebih memahami nantinya. Kemudian juga mengenai mekanisme wawancara yang baik. Lalu mekanisme doorstop yang baik dan sopan pun tahu.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : prosesi penutupan UKW angkatan ke 48

Lalu ketika dihadapkan pada narasumber yang minta keterangan tidak ditulis atau off the record, bisa menyikapinya. Sehingga menjadi pengalamannya. Tidak tahu menjadi tahu. Terus mengajarkan bekerja cepat di tengah pressure yang tinggi. Para wartawan memiliki pressure yang tinggi dalam pekerjaannya. Biasa dikatakan deadline. Kemudian para wartawan bisa menghadapi situasi kondisi (sikon) demikian. Ketika melakukan wawancara, ada langkah – langkahnya. Cara bertanya pun akan dilihat. Pertanyaan yang diajukan singkat, padat dan jelas untuk memperoleh jawaban dari narasumber.

BACA JUGA: Korban Janji Palsu Program Pendidikan Gratis di Nias Selatan Tidak Jelas

Foto : prosesi penutupan UKW angkatan ke 48

Kemudian juga mengerti cara menghadapi narasumber dari beragam level. Karena para wartawan akan menjumpai beragam level narasumber. Dari mulai level bawah sampai atas. Dari tukang becak, pedagang sampai ke Presiden. Banyak yang dapat dipetik dari UKW. Sementara data wartawan kompeten hingga UKW angkatan ke 48 sekitar 12.200 orang se Indonesia. Namun, untuk UKW angkatan ke 48, wartawan kompeten ada 9 orang dan tidak kompeten ada 2 orang. Harapannya, pers bisa menjadi salah satu pilar demokrasi dan ikut mencerdaskan masyarakat. Peran wartawan sangat diperlukan. Memberikan informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan. Bukan sebaliknya. Membodohi masyarakat. UKW tidak pasti dilaksanakan. Rata – rata 3 bulan sekali dilaksanakan. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: 4 Pasangan Bacakada Kepulauan Nias Membunuh sebelum Berkuasa?