Foto : Ilustrasi Incumbent dan Kotak Kosong

Jakarta, NAWACITAPOST – Pelaksanaan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) 2020 serentak di Indonesia khususnya kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara turut menyemarakkan. Diprediksi bakal calon kepala daerah (bacakada) incumbent menang melawan kotak kosong atau calon bayangan. Hasil Survei Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) dipaparkan oleh Arifin sepertinya mengidentifikasi bacakada incumbent kalah. Namun sayang pasangan Dosmar Banjarnahor – Oloan Nababan memborong semua partai politik (parpol) di daerahnya. Salah satunya, partai Golkar, partai berlambang pohon beringin lebih memilih loyal kepada pasangan incumbent. Menyiapkan kotak kosong sebagai rivalnya. Bisa jadi hasil survei akan berbalik. Dikatakan oleh Putra Sijarango, Kecamatan Pakkat, Mattheus Simamora pada 4 September 2020. Dalam UU (Undang – Undang) nomor 10 tahun 2016 tentang Pilkada diatur mekanisme jika Pilkada hanya diikuti oleh calon tunggal. Dalam Pasal 54D diatur, pemenang Pilkada dengan calon tunggal harus memperoleh suara lebih dari 50 persen suara sah. Jika suara tidak mencapai lebih dari 50 persen, maka pasangan calon yang kalah boleh mencalonkan lagi dalam pemilihan berikutnya. Ketika pasangan calon (paslon) incumbent mengantongi dukungan seluruh parpol tentu sah saja. Kayanya dari sekian banyak parpol, ternyata tidak satupun memiliki kader terbaik. Yang mana dianggap mampu berkompetisi sebagai calon kepala daerah (cakada). Tepatnya yang ada di kabupaten Humbang Hasundutan selain Dosmar Banjarnahor.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Ilustrasi Incumbent Lawan Kotak Kosong

Dijelaskan oleh Pengamat Politik Sumatera Selatan, Bagindo Togar Butar – Butar pada 6 Januari 2020. Perlu diketahui, tetap saja Indonesia adalah negara demokrasi. Artinya demokrasi adalah hak untuk memilih dan dipilih. Masyarakat boleh menentukan pilihan kepada siapa saja. Baik kepada pasangan Dosmar Banjarnahor – Oloan Nababan atau Kotak Kosong. Parpol bertugas menyuguhkan calon kepala daerah bagi masyarakat. Dimana – mana calon yang akan maju pilkada, bakal memperhitungkan peluang dirinya akan menang. Begitu pula dengan partai politik, hanya akan mengusung calon yang kansnya besar. Karena parpol tidak ingin memilih sembarang calon. Yang pada akhirnya menambah panjang daftar ketidakberhasilan. Ada pula parpol yang telah melakukan pembicaraan dibawah meja dengan incumbent. Tak lain untuk memajukan calon guna menghindari kotak kosong. Sekaligus mengukur sejauh mana kekuatan jaringan parpol. Akan tetapi kondisi seperti ini jarang terjadi. Karena parpol maupun tokoh masyarakat mempertimbangkan peluang menang sebelum ikut pilkada. Maka sangat wajar bila sampai kini parpol belum memunculkan nama lain untuk maju. Bisa jadi penilaiannya incumbent sulit dapat kompetitor yang sepadan. Sisi incumbent sudah unggul. Mempunyai keluarga dan kinerja yang baik di daerah yang dipimpinnya. Tingkat kepuasan masyarakat kepada incumbent cukup tinggi. Sehingga keputusan parpol mendukung incumbent sepenuhnya. Tidak cuma satu parpol yang mendukung. Namun, dipercaya mayoritas parpol. (Ayu Yulia Yang)

Baca juga :  Bukan Lagi Brasil, Kini Indonesia Disebut Jadi Episentrum Covid-19 ?

BACA JUGA: 4 Pasangan Bacakada Kepulauan Nias Membunuh sebelum Berkuasa?