Beberapa Muallaf Tenar Ketahuan Berbohong, Ini Faktanya!

0
315
Foto : Pakar Komunikasi, Ade Armando

Jakarta, NAWACITAPOST – Dipertanyakan kini persamaan Fauzan Al Azmi dengan Chris Bangun Samudra dan Steven Indra Wibowo. Ya yang mana sama – sama muallaf. Sama pula seorang ustadz. Tapi juga sama – sama pembohong. Yang terbaru dan fenomenal adalah Fauzan yang mengaku lulusan S2 Teologi Injil Vatican School di Vatikan. Dia mengaku ayahnya adalah seorang cardinal. Bernama Yohannes Ignatius dan ibunya adalah penyebar Injil. Katanya, dia masuk Islam. Lalu mengganti nama menjadi Fauzan Al Azmi. Padahal dia memang dari dulunya muslim. Nama aslinya Joko Subandi, asal Kudus. Dia bilang ibunya bernama Maria Laura. Padahal ibunya bernama Surahma. Joko memang penipu berat. Dengan predikat mualafnya, dia menikahi belasan perempuan dari Ciamis, Batam, Riau dan Jambi. Banyak korban yang sampai tertipu ratusan juta rupiah. Padahal kebohongannya kan terang benderang.

BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng

Foto : Ade Armando, Pakar Komunikasi

Dia bilang ayahnya kardinal, padahal kardinal kan biasanya tidak menikah. Lucunya baru setelah beberapa tahun beroperasi, kebusukannya terbongkar. Ustadz muallaf lain mungkin tidak sedahsyat Fauzan kebohongannya. Tapi tetap saja nipu. Chris Bangun Samudra misalnya. Yang mana juga mualaf jadi ustadz. Dia mengaku alumni S3 di Vatikan. Padahal di Vatikan, tidak ada universitas yang mengeluarkan gelar S3. Belakangan terbongkar, dia cuma pernah bersekolah di SMA Katolik Seminari di Kota Blitar, Jawa Timur. Bahkan, tidak pernah sampai tamat. Ada pula Steven Indra Wibowo. Dia terkenal sekali. Dia Ketua Mualaf Center Indonesia. Tak lain semacam pusat pelayanan bagi para muallaf. Dia ketahuan bohong mengaku sebagai mantan romo di Katedral Jakarta. Ketahuannya sederhana banget. Dia bilang menjadi pastor pada tahun 2000. Sementara dia mengaku lahir pada 1981. Masalahnya, tidak mungkin seseorang menjadi imam pada usia 19 tahun. Menjadi pastor di Katolik tidak seperti proses menjadi ustadz atau ulama di Islam. Dalam Islam mungkin saja siapapun bisa jadi ulama. Preman dropout, SD pun bisa jadi ustadz kalau pintar melintir – melintir ayat. Terlebih pelintirannya dengan lucu dan terdengar fasih bicara Arab. Di Katolik, tidak sesederhana demikian.

BACA JUGA: Yasonna Laoly Ketagihan Gowes, Lebih Merakyat, Dikasih Reward dari Jokowi

Foto : Ustadz Chris Bangun Samudra

Menjadi pastor atau imam mensyaratkan proses pendidikan tertentu. Dia harus belajar Filsafat dan Teologi sampai 6 tahun. Jadi tidak mungkin Steven sudah jadi pastor pada usia 20 tahun. Kemudian, di Katedral Jakarta, tidak pernah ada romo bernama Steven Indra Wibowo. Nama – nama muallaf pembohong bisa dideretkan lebih panjang. Ada yang lebih senior. Seperti Yahya Waloni yang mengaku sebagai mantan pendeta. Mengaku sebagai pendiri dan mantan Rektor UKIP (Universitas Kristen Papua). Belakangan ketahuan dia bohong karena adanya bantahan dari UKIP. Jadi, pembongkaran kebohongan mudah sekali dilakukan. Tidak perlu ada investigasi yang mendalam. Tapi di sisi lain, para muallaf berbohong. Tak lain karena menyadari bahwa memang ada jutaan umat Islam yang gampang dikibuli. Bahkan setelah kebohongan terbongkar, masih ada jutaan orang yang memercayainya. Bukan soal data akurat atau tidak. Bukan pula soal percaya dan yakin.

BACA JUGA: Makan Siang dan Arahan Menkumham Yasonna Laoly kepada Manajemen Nawacitapost

Foto : Ustadz Chris Bangun Samudra

Umumnya, umat Islam yang jadi korban adalah kalangan yang terpinggirkan. Umumnya, adalah kalangan yang secara ekonomi lemah, pendidikan rendah, kecewa dengan keadaan, tersingkir dari kompetisi yang semakin ketat dan sebagainya. Bisa dibilang juga kaum yang disebut ‘kaum marjinal’. Masalahnya ada banyak pemuka agama memanfaatkan kemarjinalannya. Para ulama dan ustadz bukannya mendorong untuk bangkit dan berjuang. Malah meninabobokkan dengan perkataan mengherankan. Semua adalah cobaan bagi kaum beriman. Selama tetap menjaga keimanan dan ketakwaan, akan diberi ganjaran di hari akhir dengan surga yang indah. Dibuat terlena dengan janji – janji surga. Karena keterlenaan itulah, menjadi pengikut setia sang ustadz. Merasa para pemuka agama akan menjadi pembuka pintu surga. Selama taat pada agama dan ulama, yakin pasti akan bahagia. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh imbalan materi di dunia. Kebahagiaan ditentukan nanti di akhirat. Yang penting adalah beragama dengan baik. Melaksanakan sholat, mengaji, puasa, berdzikir, dan syukur bisa naik haji. Yang penting juga adalah mengenakan simbol – simbol seperti gamis, jilbab dan jenggot.

BACA JUGA: Yasonna Terjun Politik, Kontribusi Real Positif untuk Bangsa dan Negara

Foto : Steven Indra Wibowo

Waktu ke waktu, kaum marjinal tetap butuh konfirmasi. Butuh bukti – bukti yang bisa menunjukkan. Bahwa jalan yang ditempuh adalah benar. Bahwa ibadahnya memang akan membawa ke surga. Kehadiran para muallaf seolah – olah memiliki latar belakang pendidikan dan pengetahuan Kristen yang mendalam. Tak pelak kemudian membuat teryakini bahwa Islam adalah agama benar. Sehingga bukan hanya bahagia karena memperoleh saudara baru. Namun layaknya Fauzan, Chris, Steven, atau Yahya seolah memberi bukti bahwa berada di jalan yang benar. Logikanya begini, kalau seorang pemeluk Kristen yang berpengetahuan mendalam saja akhirnya memilih Islam, bukankah jadi bukti bahwa Kristen salah dan Islam benar? Ya selama umat Islam tetap terbelakang dan tidak diajarkan untuk menggunakan akal sehat, pola demikian akan terus terjadi. Jadi, bersiap saja menerima para muallaf baru yang akan mengeruk keuntungan. Yakni dengan kebohongan demi kebohongan. Dikemukakan oleh Dr. Ade Armando, M.Sc selaku pakar komunikasi. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?