Kamis, 4 Juni 2026

Polarisasi Politik Hasilkan Kadrun, Kampret dan Cebong, Luar Biasa Indonesia

Photo Author
Ayu Yulia Yang, Nawacita Post
- Selasa, 9 Juni 2020 | 10:55 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST – Indonesia memang luar biasa. Lantaran bermunculan istilah baru. Terutama istilah yang muncul didalam dunia politik dan pemerintahan. Tak lain menyangkut polarisasi. Diantaranya kadrun, kampret dan cebong. Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sudah mengetahuinya. Namun segelintir orang mungkin belum tahu. Dibalik istilah  kadrun, kampret dan cebong tentu menyirat banyak makna.

Foto : Sosial Media

Cebong dan kampret, dua kata yang populer menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Cebong menunjuk pengikut capres (calon presiden) (saat itu) Jokowi. Kampret ditujukan untuk capres Prabowo Subianto. Setelah Kabinet Indonesia Maju terbentuk, dua kata mulai redup. Muncul cebong disematkan dengan pendukung Jokowi bukan tanpa latar belakang. Salah satu hewan favorit Jokowi adalah katak. Di Istana Negara, katak juga menjadi salah satu hewan peliharaan Jokowi. Katak merupakan hewan yang mengalami proses metamorfosis. Salah satu proses metamorfosis katak adalah proses menetasnya telur menjadi kecebong. Karena itulah pendukung Jokowi dinamai dengan sebutan cebong. Sedangkan kampret merupakan istilah plesetan dari Koalisi Merah Putih. Koalisi Merah Putih merupakan koalisi yang mendukung Prabowo - Hatta pada Pilpres 2014 lalu. Koalisi disingkat KMP. Kemudian oleh pendukung Jokowi, istilah kerap kali diplesetkan bereformasi jadi KMPret. Lama kelamaan berubah jadi kampret. Namun, reformasi tentu tidak serta merta tanpa alasan. Berawal dari tertangkapnya percakapan di sosial media (sosmed), perumpamaan kampret digambarkan kelelawar. Keluar saat malam hari, berdiam saat siang hari. Gaya hidup erat dengan kehidupan malam. Memang selama ini notabene kehidupan malam dikenal dengan hal - hal berbau tabuh biasanya.

-


Sementara, Kadrun merupakan singkatan dari kadal gurun, sejenis hewan yang hidup di hamparan gurun. Diidentikkan dengan kadrun adalah orang – orang yang suka melakukan aksi radikal anti Pancasila. Di mesin pencarian google, kata kadrun ditemukan ada 92.700 hasil per 0,34 detik. Kata kadrun mulai dikenal di dunia maya. Terutama pada salah satu akun sosial media (sosmed). Kosakata kadrun bukan disematkan untuk nama orang. Melainkan umpatan yang diberikan kepada seseorang. Biasanya kadrun dialamatkan kepada orang yang kritis terhadap pemerintah. Kadrun bisa dipersonifikasi sebagai pihak yang belum move on terhadap hasil pilpres. Kadrun merupakan turunan dari kampret. Dengan kata lain, kadrun adalah pengganti kampret.

-
Foto : Kadal Gurun

Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Mada Sukmajati menjelaskan lebih detail istilah baru. Kadrun tetap memiliki kelebihan dalam perpolitikan nasional. Begitu juga memiliki kekurangannya. Kelebihannya menjadi kekuatan kontrol terhadap pemerintah dari akar rumput, dengan catatan dikelola dengan baik. Namun kekurangannya jika energi itu tidak dikelola. Seiring dengan berjalannya waktu, disematkan kepada orang - orang yang kontra pemerintah oleh kelompok yang pro pemerintah. Sebagian orang melabeli kadrun kepada seseorang yang memakai celana cingkrang, jubah, imamah, memotong kumis dan memanjangkan jenggot. Demikian juga dialamatkan ke akhowat yang menggunakan cadar dan yang sejenisnya.

-
Foto : Ilustrasi Cebong dan Kampret

Secara umum, kadal adalah kelompok reptilia bersisik yang umumnya berkaki empat. Hewan kadal tersebar sangat luas di dunia. Dapat dijumpai di semua habitat. Diantaranya hutan, gurun pasir, padang rumput, kebun, sawah, daerah berawa dan bahkan di pemukiman dan kota - kota. Kemudian istilah kadrun bersudut pandang pada fisik hewannya. Beberapa kadal gurun memiliki jari  - jari berjumbai sisik untuk membantu berlari melintasi pasir tanpa tenggelam. Spesies kadal gurun bertanduk mampu menyemprotkan darah dari mata untuk mengusir pemangsa. Beberapa kadal gurun penggali bahkan memiliki sisik yang jelas pada kelopak mata untuk melindungi mata. Akan tetapi masih memungkinkan untuk melihat ketika bergerak di bawah pasir. Kulit bersisik kadal gurun tidak tumbuh seiring bertambahnya usia. Kebanyakan melepaskan kulit atau berganti kulit, dalam serpihan besar. Kadal gurun juga memiliki kemampuan untuk mematahkan bagian ekornya ketika predator meraihnya.

-
Foto : Ilustrasi Cebong dan Kampret

Secara umum, dalam periode 19 – 25 Oktober 2019 pada survey salah satu situs, percakapan terbanyak  tentang kadal gurun berpusat pada tiga pulau. Yaitu Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Dari tiga pulau terdapat tiga provinsi terbanyak yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah secara berturut – turut. Banyaknya percakapan di beberapa provinsi terkait dengan tiga kemungkinan. Yaitu kedekatan dengan pusat kekuasaan, frekuensi penggunaan akun media sosial (medsos) dan yang paling penting adalah bahwa isu kadal gurun patut untuk didiskusikan secara publik. Analisa Jaringan Sosial atau Social Network Analysis (SNA) dalam percakapan kadal gurun sangat penting untuk dilihat. Terutama untuk mengkluster kelompok – kelompok yang berbeda pandangan. Berdasarkan data percakapan di salah satu akun media sosial (medsos) diatas dapat disimpulkan. Istilah kadal gurun dilabelkan kepada orang yang bukan pendukung Jokowi. Mempunyai ideologi khilafah dan berorientasi radikal. Jadi, kadal gurun bukanlah suatu identitas yang mana suatu kelompok dengan senang memakainya. Kemudian, percakapan tentang kadal gurun didominasi oleh pengguna akun yang berada di pulau Jawa. Mayoritas perbincangan bersifat alamiah. (Ayu Yulia Yang)

 

 

Editor: Ayu Yulia Yang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini