Diduga “Spy” Privasi, Senator AS Minta FBI Selidiki Aplikasi FaceApp

0
124

New York, NAWACITA- Senator AS Chuck Schumer, dalam cuitan (disertai surat terbuka) di Twitter (Kamis, 18 Juli 2018) menyerukan FBI melakukan penyelidikan terhadap aplikasi FaceApp, yang mengubah foto pengguna untuk membuat mereka terlihat lebih tua atau lebih muda, sebagaimana dilansir dari BBC News.

Aplikasi yang viral dan marak digunakan di kalangan pengguna medsos ini, menuai kontroversi karena diduga memuat ancaman kebocoran identitas yang sifatnya mengancam rahasia pribadi dan negara.

Menurut Bernard Ndruru, S.Fil, M.Psi, seorang praktisi psikologi mengatakan bahwa hal ini merupakan hal biasa dan tidak perlu dibesar-besarkan. “Aplikasi yang menarik, tentu mengundang minat siapa saja untuk mencobanya. FaceApp populer di kalangan kaum milenial karena sifatnya yang bisa memprediksi bentuk wajah seseorang dalam beberapa tahun yang akan datang. Hal ini tentu memuat unsur lucu-lucuan yang sifatnya mengibur dan sementara”.

“Jadi, kegelisahan yang disebabkan oleh kehadiran FaceApp kurang mendasar bila dibandingkan dengan keceriaan orang yang tergelitik melihat bentuk wajahnya yang berbeda”.

Schumer menyebut FaceApp “sangat mengganggu” dan data pribadi warga AS dapat pergi ke “kekuatan asing yang bermusuhan”.

Kekhawatiran akan hal tersebut telah diajukan terhadap perusahaan Rusia yang mengembangkan aplikasi FaceApp setelah menjadi viral dalam beberapa hari terakhir.

FaceApp sebelumnya membantah tuduhan itu. Wireless Lab, sebuah perusahaan yang berbasis di St. Petersburg, mengatakan bahwa FaceApp tidak secara permanen menyimpan gambar, dan tidak mengumpulkan kumpulan data. Ia hanya mengunggah foto tertentu yang dipilih oleh pengguna untuk diedit, seperti aplikasi editing lainnya. “Meskipun perusahaan aplikasi tersebut terletak di Rusia, data pengguna tidak ditransfer ke Rusia,”.

Namun Schumer tetap meminta agar FBI dan Komisi Perdagangan Federal (FTC) untuk menyelidiki FaceApp.

“Saya memiliki keprihatinan serius mengenai perlindungan data yang dikumpulkan. Dan saya mau pengguna mengetahui siapa yang mungkin memiliki akses ke data itu,” kata Schumer

Seruan untuk penyelidikan itu datang setelah Komite Nasional Demokrat dilaporkan memperingatkan calon presiden 2020 dan juru kampanye mereka untuk tidak menggunakan aplikasi tersebut.

“Tidak jelas pada titik ini apa risiko privasi itu, tetapi yang pasti adalah bahwa ada manfaat dari menghindari aplikasi tersebut,” kata petugas keamanan Bob Lord kepada staf.

Perusahaan pembuat Aplikasi FaceApp mengatakan bahwa mereka memiliki sekitar 80 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Pada 2017 FaceApp memicu kritik luas untuk fitur yang memungkinkan pengguna untuk mengubah etnisitas seseorang dalam selfie.  Perusahaan kemudian meminta maaf dan menarik filter.

Tinggalkan Balasan