Kamis, 4 Juni 2026

Ketua DPRD Kabupaten Blitar Meminta Semua Stakeholder Duduk Bersama Mengatasi Masalah Banjir

Photo Author
Vanessa, Nawacita Post
- Sabtu, 22 Oktober 2022 | 20:39 WIB
Ketua DPRD Kabupaten Blitar Meminta Semua Stakeholder Duduk Bersama Mengatasi Masalah Banjir
Ketua DPRD Kabupaten Blitar Meminta Semua Stakeholder Duduk Bersama Mengatasi Masalah Banjir

Blitar, NAWACITAPOST.COM - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar, Suwito Saren Satoto menilai masalah banjir di wilayah Blitar Selatan beberapa waktu lalu memiliki akar masalah yang kompleks. Untuk memecahkan masalah ini perlu adanya kerja sama antar stakeholder yang ada di Kabupaten Blitar.

BACA JUGA : Ketua DPRD Kabupaten Blitar Minta Pemkab Serius Verifikasi Penerima BLT Kenaikan BB

Menurut Suwito, masalah banjir ini menjadi bencana tahunan yang terjadi. Namun pada tahun ini menjadi cukup parah dengan kondisi banjir yang lebih besar hingga merusak sejumlah fasilitas umum seperti runtuhnya jembatan dan jalan umum, serta membuat kerugian materiil warga seperti pertanian dan peternakan yang rusak.

“Penanganan jangka pendeknya tentu pemenuhan kebutuhan akan logistik kebutuhan sehari-hari para korban banjir disalurkan dengan lancar tanpa kendala, juga dari sisi kesehatan juga diperhatikan, ini guna meringankan beban penderitaan korban. Lalu jangka menengahnya ini memang perlu duduk bersama berbagai sektor karena masalah banjir ini banyak faktor penyebabnya,” kata, Sabtu 22/10/2022.

Suwito menjelaskan, salah satu faktor penyebab banjir, adalah sedimentasi yang terbawa di aliran sungai. Sedimentasi yang berlangsung lama membuat pendangkalan sungai, yang dampaknya ketika hujan deras sungai tidak bisa menampung debit air hingga menjadi luapan banjir. Hal ini perlu disikapi dengan normalisasi sungai yang dikerjakan dinas pekerjaan umum dan balai besar wilayah sungai (BBWS).

Masalah kurangnya tanaman penyerap air di pegunungan, juga menjadi faktor penyebab banjir. Sedang di sekitar wilayah terjadi banjir di Blitar, lokasi dataran yang lebih tinggi atau perbukitannya mulai hilang tanaman keras yang bisa menyerap air. Bahkan ada alih fungsi lahan yang saat ini lagi tren, lahan diubah menjadi lahan tebu yang tidak bisa menyerap air tanah. Masalah hutan dan tanamannya ini merupakan wilayah dari Perhutani.

“Jadi yang saya katakan semuanya lintas sektor itu seperti ini. Bagaimana agar fungsi konservasi ini bisa dipulihkan kembali, hutan sebagai tangkapan air jangan dialih fungsikan menjadi perkebunan,”jelasnya.

Terakhir Suwito berpesan pada masyarakat juga meningkatkan kewaspadaaan di saat cuaca buruk. Sehingga ketika ada bencana yang terjadi masyarakat ada persiapan sehingga kerugian bisa diminimalisir.

“Semisal kalau ada pohon yang sudah tua sebelum ada hujan deras bisa ditebang agar tidak merobohi orang. Lebih penting lagi kegotong-royongan masyarakat sangat membantu dalam penanganan bencana, karena kalau tanpa uluran tangan kepedulian sesama dalam penanganan bencana banjir seperti kemarin menjadi hal yang sulit kita kerjakan,” tuturnya.

Frins Maurins

Editor: Vanessa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini