Surabaya NAWACITAPOST – Organisasi Bangun Marwah Perjuangan Indonesia (BMPI) Jawa Timur kembali membangkitkan nasionalisme para kadernya melalui ziarah kebangsaan di makam Proklamator Bangsa Ir. Sukarno di kota Blitar, Sabtu 2 Juli 2022.

Selain ziarah dengan membawa harapan besar dihadapan makam presiden pertama Republik Indonesia, para kader juga diajak melaksanakan upacara bendera di lokasi makam, untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Ayahanda Megawati Sukarnoputri yang lebih dari setengah dimasa hidupnya digunakan untuk memperjuangkan harkat dan martabat seluruh rakyat Indonesia sebagai bangsa yang berdikari berlandaskan dengan Pancasila.

Selaku pembina upacara dilokasi, Sekertaris Jendral (Sekjen) BMPI Jatim, Dewi Widowati Soegandi mengingatkan agar Kader BMPI jangan sekali-sekali melupakan sejarah.

” Ir Sukarno merupakan bagian sejarah Bangsa Indonesia yang tidak bisa dilupakan. Beliau adalah Proklamator bangsa yang besar ini. Beliau yang berhasil menggali nilai nilai Ideologi Pancasila yang sangat kita junjung ini,” ucap perempuan pergerakan ini dengan suara lantangnya.

Maka melalui paparannya, ia mengajak kader BMPI untuk menggenggam rapat rapat semua yang telah berhasil diperjuangkan tokoh tokoh pejuang kemerdekaan.

” Mari kita genggam rapat rapat NKRI, mari kita genggam dan amankan Pancasila dari segala ideologi yang ingin memporak porandakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dan mari kibarkan Merah Putih setinggi tingginya,” pekiknya.

Sementara itu, ditemui terpisah ketua Dewan Pembina BMPI Edi Widodo mengharapkan bahwa ziarah kebangsaan ini menjadi sebuah proses konsolidasi bagi kader BMPI.

” Sebagai organisasi yang berbasis Nasionalis, yang paling penting adalah Kesolidan. Artinya, maju mundurnya organisasi pergerakan ini ditentukan oleh solid tidaknya seluruh kader,” ungkap wakil ketua bidang kehormatan PDI Perjuangan kabupaten Sidoarjo ini.

Baca juga :  Peringati Harlah ke-3, BMPI Refleksi Peristiwa Kudatuli

Masing-masing kader harus paham betul visi dan misi didirikannya organisasi BMPI. Dan jika sudah berpandangan dan berpendapat yang sama, maka untuk bergerak bersama-sama menjadi mudah dan terkendali.

Edi juga mengingatkan agar para kader tidak cepat marah apabila berbeda pendapat, apalagi sampai mengambil keputusan tanpa berkoordinasi terlebih dahulu.

” Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa karena kita dibentuk berdasarkan azas Demokrasi. Jadi jangan sampai terburu-buru mengambil keputusan, apalagi dilakukan dengan menyerang orang per orang secara pribadi,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, secara tegas Edi Widodo mengajak semua kader untuk kembali kepada AD/ART Organisasi.

” Jangan sampai kita terpecah hanya karena saling menduga. Kalau kita-kita ini tidak bersatu, maka akan sangat mudah orang-orang seperti Kadrun memanfaatkan situasi,” ungkapnya kembali.

Lebih lanjut, Edi berharap BMPI kedepannya menjadi sebuah organisasi Nasionalis yang bergerak dan bekerja secara mandiri dan tidak menjadi ‘Pengemis Politik’. Dalam arti tidak sekedar meminta fasilitas tapi tidak melakukan apa-apa.

” Saya berharap, agenda ziarah kebangsaan minimal dapat kita laksanakan setahun dua kali, sehingga selain lebih intensif dalam memupuk rasa Nasionalisme, agenda ini juga menjadi upaya konsolidasi yang baik antar kader,” tandas Edi. (BNW)