Tanjungpinang, NAWACITAPOST.COM – Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga turun mengecek lokasi yang diduga terjadi penggusuran Makam rata dengan tanah di Kawasan Area Situs (makam Daeng Marewah). Sei Carang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

“Tidak tanggung-tanggung ada delapan titik Makam yang roboh atas kejadian ini, harusnya pengelola berpikir dulu dong sebelum bertindak jangan asal tancap gas.”Ucap SAS selaku Ketua Laskar LAKRL saat dilokasi Sabtu 11/6/2022.

Pada saat dilakukan Penggusuran Penjaga Makam telah memberitahu kepada pengelola (Mewakili) supaya makam tersebut tetap utuh namun hal tersebut di abaikan oleh sibersangkutan.

“Makam yang ada di Kawasan Area Situs (makam Daeng Marewah) sudah menjadi bagian dari cagar budaya jadi ini harusnya di jaga bukan di rusak atau di robohkan karena Cagar budaya merupakan bagian terpenting dalam sejarah melayu di Tanjungpinang.”Pungkasnya

Sementara itu, Ajis selaku Penjaga Makam menambahkan bahwa lahan Kawasan Area Situs tersebut sudah di Kavling Kavling serta di perjualbelikan kepada Masyarakat yang berminat dengan harga 30 sampai 70 juta rupiah, surat sertifikat

“Saya heran, kenapa lahan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya justru diperjualbelikan. Berharap pemerintah segera melakukan tindakan atas kejadian ini”Pungkasnya.

Humas  lembaga adat  Kesultanan Riau Lingga Said Ubay menyatakan, bahwasannya makam-makam yang berada di Komplek makam daeng marewah ini di gusur oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab

“Kami akan selamatkan Tanah adat dan tanah ulayat ini bahkan telah 2 Tahun yang lalu pipa paralon telah kami letakkan sebagai tanda bahwa ini tempat makam, namun di tangan pihak yang tidak bertanggung jawab, makam makam dan situs sejarah itu malah di gusur” ucap Ubay sambil menunjukkan letak makan yang hampir digusur dan yang telah di gusur.

Baca juga :  Cagub Kepri Ansar Usai Nyoblos di TPS, Optimis Menang  

Sekretaris Laskar Lembaga Adat Kesultanan Riau Lingga Kota Tanjungpinang Budi menyatakan, akan menyelamatkan, melestarikan dan mengembangkan situs-situs budaya ini serta tanah ada ini sesuai akte Kesultanan Riau Lingga pada pasal 2 dan pasal 17

“Didalam akta Kesultanan Riau Lingga pasal 2 dan pasal 17 sebagai bentuk penyelamatan aset dan budaya, sehingga situs ini akan kami Selamatkan, akan kami lestarikan, akan kami manfaatkan, karena kami berkeyakinan ini merupakan situ sejarah, bahkan kita jangan sekali-sekali melupaka sejarah tersebut, atas dasar itu juga aset-aset dan tanah ulayat ini nantinya akan di kelola dengan baik sesuai akte Kesultanan Kerajaan Riau Lingga”ucapnya

ia juga menjelaskan akan menjaga Perbatasan-perbatasan itu, sehingga lingkungan-lingkungan ini tidak tercemarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, dan untuk menjaga selisih paham anatar tanah ulayat dan tanah masyarakat

“Kami tidak ingin kawasan-kawasan cagar budaya ini di lecehkan di sembarangan gunakan dengan orang orang yang tidak mau memperhatikan, mengawasi serta melestarikan adat dan budaya melayu bekas Kerajaan Kesultanan Riau Lingga” Jelasnya kembali

Kesultanan telah di akui sampai ke Pusat Negara Republik Indonesia, bahwa wilayah takluk Kerajaan Kesultanan Riau Lingga harus di kuasai oleh Lembaga adat Kesultanan Riau Lingga yang turun temurun dari Sultan Abdurrahman 2 Muazamsyah

“Ini di akui sampai kepusat, jadi kami berhak atas situs – situs adat dan atas taklutnya wilayah kekuasaan  Kesultanan Riau lingga yang terakhir yaitu Sultan Abdur Rahman 2 Muazamsyah”Pungkasnya

“Berita ini, masih butuh konfirmasi selanjutnya”

(YD)