Kepala Dinas KPPP Kepulauan Mentawai, Hatisama Hura, kemarin, (7/12/2021), siang mengatakan, bahwa, pintu masuk ternak babi di Kepulauan Mentawai ada di Bungus. Namun, lanjut dia, tidak menutup kemungkinan ada pintu lainnya untuk tetap bisa masuk Mentawai. “Namun, kita belum mendapatkan informasi itu, (pintu masuk yang lain, red). Sejauh ini ternak babi yang masuk ke Mentawai berasal dari daerah Pasar Usang dan Simalungun, Sumatera Utara dan izin dari dinas KPPP Mentawai,” ungkapnya.
Antisipasi tersebut, juga telah dilakukan semenjak tahun 2020 pasca ribuan ternak babi mati mendadak Mentawai akibat diserang ASF. Dugaan kuat, penyebaran virus tersebut, berasal dari hasil pencucian babi yang sudah terpapar ASF di tingkat rumah tangga dan dibuang ke kandang babi.
Selain itu, terkait antisipasi ASF, pihaknya juga mengaku akan berkoordinasi dengan dinas peternakan dan kesehatan hewan Porvinsi Sumbar serta pihak karantina di Bungus untuk memperketat masuknya daging babi ke Mentawai. Terkait ancaman ASF terhadap penyebaran kepada manusia, pihaknya meminta wartawan untuk mengkonfirmasi kepada Rumah Sakit Hewan yang ada di Bukittinggi.
“Tahun ini, belum ada ternak babi yang masuk ke Mentawai. Kecuali daging babi yang sudah dipotong dan masukkan ke dalam fiber. Jadi, untuk data atau persentasenya, kita belum ada,” ujarnya.
Sekedar di ketahui, sistim peternakan babi di Kepulauan Mentawai oleh masyarakat tidak dikandangkan atau dengan cara dilepas. Rata-rata setiap rumah warga asli Mentawai, terutama di dusun-dusun memiliki ternak babi.
Untuk gejala awal ASF sendiri, ternak babi ditandai bintik-bintik merah pada bagian telinga dan perut. Setelah mengalami bintik-bintik tersebut, ternak babi mengalami demam dan seperti terlihat marah-marah. Kemudian, babi tidak mau makan dan selanjutnya, tidak bisa berdiri. Sehari kemudian, babi akan langsung mati. (arf)
Simak informasi menarik lainnya di youtube NAWACITA TV
https://youtu.be/1TnMeQ0Vlmk