Potret pendidikan di daerah Terdepan, Terluar dan Terpencil (3T) di Kepulauan Mentawai masih dihadapkan dengan sekelumit persoalan. Salah satu tantangannya adalah soal akses menuju sarana sekolah tersebut. Hal itu seperti pil pahit yang harus ditelan pelajar di SMPN 2 Sipora Selatan yang berada di desa Bosua. Seperti apa?
Perjuangan siswa di daerah 3T, memang penuh tantangan dan rintangan. Bukan hanya dihadapkan pada sisi ekonomi, mereka juga harus berjuang melawan kubangan jalan yang licin dan berlumpur menuju sekolah mereka. Terlebih saat musim penghujan di Mentawai.
Ada tiga sebaran lokasi pelajar yang cukup sulit mengakses SMPN 2 Bosua, Kecamatan Sipora Selatan tersebut. Diantaranya, pelajar di dusun Masokut, Desa Beriulou dan dusun Sao. Namun, paling terparah berada di dusun Masokut kawasan Hunian Tetap (Huntab) pasca tsunami Mentawai tahun 2010 silam.
Untuk menuju sekolah, mereka harus berangkat pagi-pagi sekali. Jarak ditempuh lebih kurang 8 kilometer dari lokasi Huntab. Kondisi seperti ini, sudah berlangsung semejak dua tahun belakangan. Semenjak, mobilitas kendaraan proyek bolak balik melewati kawasan tersebut.
Baca Juga : Paparan Densus 88 Soal Pendanaan Jaringa Teroris Jamaah Islamiyyah
Syahrul Akhir, 41, salah seorang warga Bosua, mengatakan, bahwa, kondisi jalan yang licin dan berlumpur tersebut, tidak hanya dirasakan masyarakat sebagai akses utama, namun, juga bagi pelajar. Menurut dia, kondisi jalan tersebut, sangat memprihatinkan dan butuh segera perbaikan.
“Kasihan kita melihat pelajar SMP N 2 Bosua yang harus berjuang untuk sampai ke sekolah. Kalau musim penghujan, mereka akan kesulitan untuk melewati jalan ini. Tidak jarang, kendaraan mereka rusak dan putus rantai di tengah jalan,” ungkapnya, Jumat (26/11/2021).
Menurut dia, akses tersebut, tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Namun, karena mobilitas kegiatan proyek salah satu rekanan atau kontraktor di Mentawai menyebabkan akses jalan semakin parah. Dia mengatakan, medan yang sulit dilalui pengendara tersebut, lebih kurang 1 kilometer hingga 2 kilometer.
Dia berharap, akses tersebut, bisa segera diperbaiki oleh pemerintah. Pasalnya, akses ini, tidak hanya dibutuhkan oleh pelajar SMP 2 Sipora Selatan, namun, merupakan akses utama masyarakat dari sejumlah desa menuju pusat ibukota Kecamatan.
Kepala SMPN 2 Sipora Selatan, Antinus kepada wartawan juga membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, bila musim penghujan tiba, tidak jarang pelajar dari tiga kawasan yang jauh dari SMP N Sipora Selatan bergelimang lumpur sampai ke sekolah. Dia mengatakan, hanya dua sebaran pelajar dari lima kawasan yang mudah dilewati.
“Sebaran pelajar di SMP N 2 Sipora ada lima kawasan. Tiga kawasan merupakan daerah yang tersulit mengakses sekolah SMP N 2 Sipora Selatan, karena kondisi jalan tersebut. Yakni, dari Dusun Sao, Dusun Masokut dan dari Desa Beriulou. Dua lainnya, berada di kawasan desa Bosua sendiri, yakni, dusun Mongan Bosua dan Dusun Bosua sendiri,” katanya.
Menurut dia, SMP N 2 Sipora Selatan salah satu sekolah yang terdampak tsunami pada tahun 2010 silam. Lalu, gedung tersebut, kembali dibangun oleh Telkomsel sebanyak 7 unit. Diantaranya, 6 ruangan belajar dan 1 majelis guru dengan jumlah tenaga pengajar 7 guru PNS, 5 guru kontrak daerah dan 2 orang guru tidak tetap.
Saat ini, kata dia, ada 135 siswa yang ada di SMP N 2 Sipora Selatan dari 200 Kepala Keluarga yang ada di desa Bosua. Namun, kata dia, akses tersulit yang dihadapi oleh pelajar berada di dusun Masokut, Desa Beriulou.
Kondisi ini keta dia juga sempat menjadi kendala pada pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di SMP N 2 Sipora Selatan. Dimana, selain kendala akses, juga biaya yang harus dibutuhkan melaksanakan ANKB tersebut di Tuapejat.
“Setelah kita rembukkan bersama dan berkoordinasi dengan dinas Pendidikan dan Kebudayaan bisa tetap terselenggara di SMPN Bosua pada bulan Oktober 2021 kemarin. Kita mintak server ke dinas Pendidikan dan masternya. Akhirnya, tetap bisa kita laksanakan secara semi online,” ujarnya.
Saat ini, harapannya, bagaimana akses tersebut, bisa menjadi prioritas bagi pemerintah. Sebab, kondisi ini, tidak saja dirasakan oleh pelajar, namun, juga para guru untuk berkoordinasi dan memenuhi kebutuhan sekolah. Sebab, kata dia, rata-rata tenaga pengajar SMP N Sipora Selatan berasal dari daerah Bosua sendiri.
“Keuntungan kita, para guru-guru kita merupakan putra-putri asli desa Bosua. Sehingga, mereka tidak ada alasan untuk kendala akses ini. Kendalanya, hanya untuk berkoordinasi dan pemenuhan kebutuhan sekolah yang harus le pusat ibukota Kabupaten saja,” pungkasnya. (arf)
Simak informasi menarik lainnya di Youtube NAWACITA TV
https://youtu.be/WgYmHvlSgLY