Kepulauan Nias Akan Tenggelam? Ini Penjelasan Ahli BRIN dan WALHI

0
1423

Jakarta, NAWACITAPOST –  ADA sejumlah alasan ilmiah yang mendasari bahwa kepulauan Nias dan Bali, yang termasuk dari 115 pulau sedang dan kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam?

Baca Juga : Refleksi Bencana Alam Sepanjang Agustus 2021, Dominasi Dua Fenomena Alam Berbeda yang Pengaruhi Upaya Kesiapsiagaan

Hal tersebut disampaikan, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis 16 September 2021. Seperti dilansir dari liputan 6.com, bahwa penyebabnya: Kenaikan air laut yang disebabkan perubahan iklim dan penurunan muka tanah.

Sementara itu  Manager Kajian dan Advokasi WALHI, Putra Saptian Pratama menyatakan “Sudah sejak lama WALHI menyoroti dan mengkaji hal ini (pulau-pulau sedang dan kecil tenggelam). Situasi perubahan iklim merupakan implikasi dari  yang disampaikan Profesor Eddy Hermawan,” jelas Putra ketika dihubungi nawacitapost melalui sambungan telepon di sela-sela acara WALHI di Makasar, Senin (20/9/2021).

Putra melanjutkan, bahwa Sekjen PBB Antonio Guterres pernah menyatakan bahwa saat ini dunia sedang dihadapkan oleh krisis iklim dan tentunya berkaitan dengan penyebaran wabah pandemi yang cukup signifikan? Sudah terlihat jelas, itu salah satunya.

Apalagi, cuaca dan iklim sangat berpengaruh, juga atmosfer, siklus air, yang menyebabkan terkondensasi yang menyebabkan air hujan dan meningkatkan suhu bumi. Dan air hujan tersebut yang seharusnya terserap ke kawasan hutan, malah yang terjadi: Air hujan terserap langsung ke laut, akibatnya kata Putra permukaan air laut menjadi tinggi.

Belum lagi adanya anomali cuaca. Seperti, kemarau yang panjang, musim hujan yang pendek. Hal itu juga diikuti dengan penegakan hukum yang lemah terhadap pihak-pihak yang merusak alam dan lingkungan. Dan tentunya akan menyebabkan dampak multidimensi yang lain khususnya di lingkungan hidup hari ini, tegas Putra.

Terkait hal itu, Eddy dari BRIN ‘menjamin’ supaya 115 pulau itu tidak tenggelam?  Maka,  perlu kombinasi upaya mitigasi dan adaptasi ke depannya agar tidak kehilangan pulau-pulau tersebut. Namun begitu, seperti dikutip dari Liputan6.com, Eddy  mengatakan publik tidak usah merasakan kekhawatiran yang berlebihan.

Khususnya terkait besaran angka kenaikan air muka laut yang sebenarnya lebih kecil dari angka yang banyak dirilis berbagai lembaga. Apalagi jika merujuk pada laporan dari International Panel Climate Change (IPCC), badan resmi dunia yang bertanggung jawab tentang perubahan iklim, pungkasnya.