Lewat jari jemari Warga Binaan Pemasyarakat (WBP) tercipta karya-karya unik motif ornamen Nias. Siapa sangka, orang yang dikonotasikan negatif mampu menghasilkan karya ini.
Pelatihan kemandirian membuat Nukha Nibira adalah sala satu pembinaan kemandirian WBP di Lapas Gunungsitoli dan pihak lapas telah menjalin kerjasama dengan UD. Wery untuk melakukan pelatihan dan sekaligus menampung hasil kerajinan batik yang diproduksi oleh WBP.
Meskipun saat ini sedang menjalani masa tahanan, namun WBP ini diberikan pelatihan membatik, sehingga jika sudah bebas bisa melanjutkan keterampilan tersebut. Kain putih yang tadinya hanya polos bisa memiliki nilai lebih dan nilai luhur dengan upaya memperkenalkan serta melestarikan kebudayaan Nias ke khalayak.
Pembinaan kemandirian bagi WBP begitu dibutuhkan. Bentuk dukungan dari segala hal perlu diselaraskan sehingga WBP bisa jadi panutan dengan berkarya. Namun proses dalam upaya mulia ini tidaklah mudah. Butuh pengorbanan termasuk materi dalam pekerjaan Nukha Nibira. Sebab,
Dikutip dari Youtube Lapas Gunungsitoli, Soetopo Berutu Kepala Lapas Klas IIB Gunungsitoli sangat mereka rasakan guna mempersiapkan mental dan moral WBP.
-
“Potensi ekonomi dari batik ini sangat kita rasakan. Jadi pembinaan Lembaga Pemasyarakatan sebagai lembaga pembinaan para pelanggar hukum guna mempersiapkan mental mereka dan moral mereka,” ucap Soetopo.
“Bukan hanya melestarikan tapi untuk mengembangkannya di kemudian hari dan terbukti beberapa warga binaan yang sudah bebas mereka tetap berkarya dengan batik ini kami bangga dengan Nukha Nibara,” lanjutnya.
Adanya pembinaan kemandirian ini diharapkan menjadi satu kelengkapan diri WBP manakala mereka selesai menjalani hukuman sehingga mereka bisa menerapkannya di lingkungan mereka untuk mencari penghasilan yang halal selepas dari pembinaan di lapas.