Politisi NasDem : Jangan Tutupi Data Meninggal akibat Covid

0
99
Data Covid terakhir dari laman https://infocovid19.jatimprov.go.id/

Surabaya NAWACITAPOST – Politisi partai NasDem Surabaya, Imam Syafi’i menyayangkan data kematian akibat covid-19 di kota Surabaya seakan ditutup-tutupi. Hal ini bisa dilihat dari laman resmi pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Timur untuk covid https://infocovid19.jatimprov.go.id/ yang seringkali dianggap tidak sesuai dengan dilapangan.

Diketahui, data Pemprov jatim adalah hasil laporan dari pemerintah kota (Pemkot) atau Pemerintah Kabupaten (pemkab) se-Jawa Timur, termasuk dari pemkot Surabaya.

” Setiap hari, secara kasat mata kita tahu yang meninggal akibat covid di Surabaya sangat banyak. Apalagi pas puncak-puncaknya sampai diatas seratus orang setiap harinya. Itu yang dimakamkan secara prokes (Covid-19, red) di TPU (tempat pemakaman umum, red) khusus Covid babat jerawat dan keputih sukolilo,” terang Imam Syafi’i, Kamis 29 Juli 2021, di Surabaya.

Drs. Imam Syafi’i, S.H.,MH., Politisi partai NasDem, Anggota Komisi A DPRD kota Surabaya

Bahkan, menurut anggota komisi A DPRD kota Surabaya ini, dirinya sempat mendapat laporan sehari bisa 195 orang meninggal di TPU tersebut. Belum lagi di tempat lain seperti yang sudah dinyatakan positif saat tes antigen maupun PCR dan memilih untuk isolasi mandiri dirumah kemudian akhirnya meninggal. Mereka tentunya dimakamkan di pemakaman biasa. ” Artinya jumlahnya kan banyak,” ungkapnya.

Tapi kita melihat data pemprov jatim berdasarkan laporan dari pemerintah kota dan kabupaten ada yang ganjil. Misalnya di kota Surabaya, datanya rata-rata tidak sampai 10 setiap harinya.

” Itu yang kemudian saya mencoba untuk menampilkan data tersebut di medsos (media sosial, red) beserta statmen Wali kota Surabaya yang mengkonfirmasi. Ternyata yang meninggal dan dimakamkan di dua pemakaman covid tersebut rata-rata 100 lebih setiap harinya. Inikan berarti ada sesuatu, menurut saya untuk apa data ditutup-tutupi,” papar Imam.

Masih Imam, dalam membuat sebuah keputusan harus mengacu pada data. Data itu akan menentukan kebijakan yang akan diambil. ” Kalau datanya salah, otomatif kebijakannya akan salah.”

Kemarin (Rabu 28/7), Imam mencoba kembali melihat data yang ada di kominfo jatim. Ternyata sudah berubah, dari data tersebut warga yang meninggal akibat covid di Surabaya tercatat ada 81 orang.

” Menurut saya ini mendekati akurasi, memang di Surabaya agak menurun. Perkiraan bisa 90 hingga 100 yang meninggal setiap harinya. Ini sudah lumayan daripada yang meninggal 100 lebih tapi yang ditulis cuma 2 atau 3 orang,” katanya.

Bahkan, Imam mencatat, pada tanggal 14 sampai 16 Juli yang meninggal di kota Surabaya nol atau tidak ada yang meninggal di data tersebut. ” Ini bagi saya tidak masuk akal.”

” Saya ada teman pak modin yang ditugaskan di kedua TPU tersebut. Bekerja dalam 3 shift, dan 1 shift bisa melakukan pemulasaran hingga 30 jenazah. Artinya kalau 3 shift berarti bisa 90 jenazah per-hari. Itupun masih satu tempat, apalagi kalau dua tempat,” ungkap Imam.

Jadi sekali lagi Imam memohon kepada dinas kesehatan provinsi jawa timur maupun kota Surabaya agar tidak lagi menutupi data yang ada.

” Kita tidak perlu malu karena memang seperti itu adanya. Kalau sampai ditutupi, takutnya masyarakat akan meremehkan,” tegasnya.

Kepada pihak media, Imam juga berpesan agar menyampaikan tentang perkembangan covid bukan hanya yang baik, karena bukan untuk menurunkan imun. Tapi bagaimana ini bisa menjadi peringatan. Termasuk langkanya oksigen, juga terkait rumah sakit yang penuh, dan banyaknya yang meninggal membuat orang berhati-hati.

” Ini bukan menakut-nakuti, tapi informasi. Ini beda dan tujuannya adalah supaya masyarakat tahu faktanya dan harus apa,” tukas Imam Syafi’i.

Data terakhir hingga Kamis 29 Juli 2021 dari laman https://infocovid19.jatimprov.go.id/ di Surabaya tercatat jumlah konfirmasi positif 50.745 orang, meninggal 1.812 orang dan yang dinyatakan sembuh sebanyak 37.964 orang. (BNW)