Kerumunan dan Antrian Vaksinasi di Thor, PPKM Level 4 jadi Sia-sia

0
604

Surabaya NAWACITAPOST – Beredar foto-foto dan video kegiatan vaksinasi hari ke-2 di lapangan Thor Gelora Pancasila Surabaya, Jumat 30 Juli 2021, yang membuat masyarakat ‘miris’ melihat antrian panjang dan kerumunan yang jauh dari harapan protokol kesehatan (prokes).

Bahkan, dikabarkan ada yang sempat jatuh pingsan, dan menurut beberapa sumber kemungkinan besar karena belum makan dan kelelahan mengantri dari pagi.

Diketahui, vaksinasi di lapangan Thor dilaksanakan oleh Komando Armada (KOARMADA) II bersama Pemkot Surabaya selama dua hari, kemarin dan hari ini (Kamis dan Jumat). Target yang ditetapkan adalah 25.000 vaksin untuk masyarakat Surabaya yang ber-KTP di tiga kecamatan yaitu Dukuh Pakis, Wonokromo, dan Sawahan. Di hari pertama dinyatakan tertib dan berhasil dengan mem-vaksin sekitar 6.000 orang. Sedangkan pada hari kedua, setelah disebarluaskan pengumuman tidak ada batasan peserta asal warga Surabaya, terjadi ledakan peserta hingga menjadi kerumunan dan antrian yang panjang.

Padahal, dihari pertama kemarin Kamis (29/7), banyak masyarakat sudah memuji panitia yang bisa mengatur sedemikian rupa sehingga tidak terjadi antrian dan kerumunan, termasuk dari anggota DPRD Surabaya sebagai lembaga pengawas.

Terkait hal ini, wakil ketua DPRD kota Surabaya, A.H Thoni sebenarnya mengapresiasi semua pihak khususnya pemerintah kota yang sudah berusaha sedemikian rupa untuk melakukan penanggulangan covid melalui vaksinasi.

Akan tetapi lagi-lagi, ia kembali menyampaikan bahwa penanggulangan ini harus dilakukan melalui metode atau pendekatan epidemologi.

Pandemi itu adalah kejadian yang luar biasa luas, tapi penanggulangan nya tidak harus kolosal, karena sesuai protokol kesehatan sifat covid ini tidak mengijinkan terjadinya kerumunan.

” Dalihnya memang baik, tapi kalau melanggar prokes, tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik atau maksimal, ” Ungkap Thoni.

Ketika pemerintah mengadakan vaksinasi kolosal di Gelora sepuluh November (G10N), Thoni sempat mengkritisi agar pemkot tidak meneruskan pola-pola seperti itu, karena memang bertentangan dengan protokol kesehatan.

” Ini yang dinilai masyarakat bahwa pemerintah tidak konsisten, ” Tegasnya.

Supaya tidak terjadi presepsi yang tidak baik, sebagai lembaga pengawas Thoni merekomendasi agar pemerintah kembali memaksimalkan puskesmas-puskesmas yang ada di setiap kelurahan sehingga dapat diilakukan secara massal tetapi yang penting bisa terdistribusi secara merata.

Melihat kejadian pagi hingga siang tadi di lapangan Thor, berarti ini terjadi pengulangan seperti di G10N. ” Ini berarti ada ketidaksiapan panitia mengantisipasi ledakan peserta.”

Harusnya pemkot sudah berpengalaman mengantisipasi hal ini. Pelaksanaan vaksinasi yang diadakan pemkot, biasanya kan harus mendaftar terlebih dahulu seperti lewat online, supaya bisa terukur pada hari ini siapa saja yang diijinkan divaksin.

” Yang ditakutkan, kalau terjadi kerumunan seperti ini dan ada salah seorang yang terpapar, bisa saja menularkan ke puluhan bahkan ratusan orang secara mendadak,” tutur Thoni.

Nah, kalau ini terjadi, vaksinasi belum tentu efektif tapi penyebarannya sudah sebegitu rupa.

” Ini namanya tidak berhitung, kita harus menjadikan kejadian tadi siang sebagai bahan evaluasi, ” Ujar Thoni kembali.

Kemarin banyak anggota dewan yang ikut hadir dan memuji sedemikian rupa, karena memang sepi dan menerapkan berapa serta siapa yang akan divaksin sudah terukur. Tetapi begitu hari ini terjadi ledakan, maka harus menjadi bahan evaluasi semua pihak.

Harapannya, harus ada penjelasan dari pihak panitia, bagaimana hal itu sampai terjadi seakan-akan lepas kontrol.

Sebagai lembaga Dewan, A.H Thoni merasa punya tanggung jawab atas Surabaya. Kalau terjadi hal seperti ini maka dikawatirkan apa yang sudah diupayakan pemerintah kota dengan berjibaku mati-matian hasilnya akan sia-sia.

” Mari saling mawas diri dan intropeksi serta selalu melakukan revaluasi apa yang sudah dilakukan terkait covid ini. Bagaimana caranya bisa dicapai dengan efektif,” harap Thoni.

Informasi dari banyak sumber, alasan vaksinasi kembali dilakukan secara kolosal adalah minimnya stok vaksin di pemkot Surabaya tapi di beberapa institusi masih tersedia.

Menurut politisi partai Gerindra ini sebetulnya tidak bisa dibenarkan apapun alasannya hingga terjadi kerumunan. Kalau memang seperti itu, berarti masih ada ego institusional.

” Mestinya, kalau memang di Pemkot sudah habis, lalu dibeberapa institusi masih punya banyak, maka harus dikembalikan kepada satgas yang bisa saling koordinasi. Fungsi satgas ini harus dilaksanakan kemudian vaksin didistribusikan melalui jaringan yang sudah ada supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutur Thoni.

Ia menambahkan, kalaulah hal yang salah tetap dilakukan maka Thoni menilai bahwa didalam vaksinasi ini dalam tanda kutip ada yang ‘butuh pengakuan’ baik dari institusi maupun dari lembaga lain.

” Kalau ada yang butuh applause (pujian. red), bukan saat ini panggungnya. Ini bukan panggung, siapa dan berbuat apa. Tapi semua harus dilibatkan dalam rangka untuk mengatasi pesebaran covid agar bisa dikendalikan,” tegasnya.

Adanya PPKM mikro, PPKM darurat bahkan sampai ada PPKM level 4, jadi percuma bila terjadi hal seperti ini.

” Mohon hal ini dipahami semua pihak, agar yang kita lakukan bersama selama ini tidak sia-sia,” tukas A.H Thoni. (BNW)