Markas Begandring Soerabaia Berhasil direbut Pejuang Surabaya

0
217

Surabaya NAWACITAPOST – Dar… Der… Dor…, Suara tembakan para pejuang Surabaya di depan Lodji Besar (Groote Loge) yang dijaga oleh Tentara Inggris dengan senjata lengkapnya.

Arek-arek Suroboyo ini berusaha mengambil alih pendudukan atas markas di Groote Loge yang selama ini menjadi ajang vergadering (begandringan) tentara pejuang.

Tentara Inggris pun dibuat kaget dan sontak cepat bersigap. Sementara tentara pejuang tak kalah bersigap dan terus bersiap. Dari penjuru arah di depan Lodji, tembakan terarah ke Lodji dimana tentara Inggris bersarang. Baku tembak pun terjadi dan bertubi tubi. Kepulan asap membubung tinggi.

Karena jumlah yang mungkin tidak seimbang, akhirnya Sekutu berhasil ditaklukkan. Mereka ditangkap dan digiring menjauh dari Lodji. Sementara komandan pejuang, Letnan Zaki, memasuki Lodji dan memeriksa Lodji. Setelah dipastikan aman, maka Ia menghampiri petinggi bangsa Dirjen Kebudayaan RI, Hilmar Farid, yang didampingi oleh Wakil Walikota Surabaya, Cak Armuji, beserta rombongan untuk mengawal mereka menduduki Lodji Besar. Selanjutnya, acara Begandringan ala Surabaya dimulai.

Itulah gambaran teatrikal menjelang pertemuan informal Dirjen Kebudayaan RI dengan pegiat sejarah dan budaya Surabaya yang tergabung dalam Forum Begandring Soerabaia. Dirjen Hilmar Farid sengaja datang ke markas Begandring Soerabaia untuk lebih jauh mengetahui kiprah dan kegiatan Forum ini dalam upaya penyelamatan, pelestarian, pengelolaan dan pemanfaatan aset sejarah, budaya dan cagar budaya kota Surabaya.

Peneleh dan Pandean Pusat Sejarah Kota

Kuncarsono salah seorang koordinator Begandring menyambut kedatangan rombongan dan sekaligus memberikan gambaran tentang kawasan Peneleh dan Pandean yang menjadi pusat sejarah kota Surabaya. Dimulai dengan bukti artefak sumur Jobong di Pandean, sejarah kota terkuak bahwa di lokasi inilah sebuah peradaban permukiman kuno Surabaya (abad 13, 14 dan 15) itu bisa diidentifikasi. Kawasan ini tersebut (Oud Soerabaia) sudah ada sejak 1270 atau paruh kedua abad 13.

Kemudian melalui temuan sumur jobong dengan fragmen tulang tulang manusia di sekitarnya, terkuak bahwa tulang terua dari tahun 1430an. Berarti dari era Majapahit dan Surabaya tersebut sebagai bagian dari wilayah Majapahit.

Tidak hanya itu, dalam perkembangan jaman, kawasan Pandean Peneleh menjadi proyek perbaikan kampung oleh pemerintah Hindia Belanda dan bukti dari adanya proyek itu adalah temuan saluran saluran air dalam bentuk pabrikan pipa yang terbuat dari terakota.

Hingga saatnya kawasan ini menjadi kampung kebangsaan karena di kawasan ini menjadi kampung tokoh tokoh kebangsaan mulai dari HOS Tjokroaminoto, Soekarno Hingga Roeslan Abdulgani.

Kegiatan Begandring Soerabaia

Selanjutnya Begandringan disusul dengan paparan tentang kegiatan dan program kerja Begandring Soerabaia. Dihadaoan Dirjen Kebudayaan, Wawali kota Surabaya, Wakil Ketua DPRD Surabaya serta pejabat BPCB Trowulan, Kadisparta Propinsi Jatim, Legislator DPR RI Hengky Kurniadi, serta TACB Kota Surabaya, koordinator Begandring Soerabaia lainnya Nanang Purwono memaparkan profil Begandring Surabaya.

Dalam kiprahnya, kegiatan Begandring Soerabaia diantaranya adalah banyak menggelar forum Diskusi, Penelusuran Sejarah, Organizing Historical Events, Pembuatan video/film berteman heritage, Penulisan buku, Membuka Perpustakaan.

Forum pegiat sejarah dan budaya Surabaya ini juga telah berupaya membuat jalur wisata sejarah kota Surabaya, membuat Ajang Diplomasi dan Komunikasi Pelajar Antar Bangsa (Indonesia – Belanda), melakukan enelusuran Jalur Rempah di Surabaya dan sekitarnya, mendorong dibentuknya Badan Pengelolaan Kawasan Kota Tua/Cagar Budaya Kota Surabaya, menginisiasi Ikatan Jurnalis Peduli Sejarah (IJPS) Surabaya sekaligus, memproduksi video tentang Javanese Life and Culture untuk Masyarakat Etnis Jawa di Suriname sebagai Jembatan Hubungan antar Bangsa (Indonesia-Suriname).
Dalam mendukung dan memperkaya kegiatan, Begandring Soerabaia bekerjasama dengan sebuah yayasan di Belanda yang sama sama bergerak di bidang sejarah, yaitu Oost Indisch Doof. Salah satu kegiatan yang sudah dirancang bersama adalah membuat ajang diplomasi pelajar antara Indonesia (Surabaya) dan Belanda (Amsterdam), sebagaimana yang telah disampaikan oleh Dewan pengurus Yayasan, Monique Soesman, yang pada kesempatan malam itu ikut dalam pertemuan melalui zoom (tele video call).
Monique merasa senang bisa ikut terlibat dalam pertemuan itu tapi dia sedih karena tidak bisa langsung hadir di Lodji Besar. Sebelumnya tahun 2019, Monique pernah datang ke Lodji ketika ia mamandu ombongan sejarawan, budayawan dan penulis dari Belanda.
Apresiasi Dirjen Kebudayaan RI, setelah mendengar paparan dan gambaran tentang Surabaya dan kegiatan Begandring Surabaya. Dalam hal ini,  Dirjen Kebudayaan RI, mengatakan bahwa apa yangenjadi kegiatan dan program kerja Begandring Soerabaia sangat klop dengan program Direktorat Kebudayaan. Dirjen Hilmar Farid, menggambarkan bahwa kesesuaian ini bagaikan BOTOL yang bertemu dengan TUTUP nya.
Pada kesempatan itu, Dirjen Kebudayaan diberi cindera mata berupa sebuah duplikat lukisan kota surabaya 1760an yang dibuat oleh pelukisan Surabaya Budi AN Irawan. Lukisan ini adalah lukisan ulang dari karya asli pelukisan Johannes Rach.
Peter Carey, peneliti dan sejarawan yang meneliti riwayat Pangeran Diponegoro menanggapi lukisan yang dibuat oleh Budi AN Irawan sbb:
“Wonderful! Brilliant idea to recreate this very rare image – the first time i have seen it! Thanks for sharing!”
Artinya “Bagus sekali! Gagasan brilian dalam melukis kembali karya seni yang sangat langka – ini kali pertama Saya melihat! Terima kasih atas berbagi nya”.
Usai mendengarkan paparan dan pandangan dari pihak pihak terkait seperti Wakil Walikota Surabaya, Wakil Ketua Dewan Surabaya serta Kepala BPCB Trowulan, Dirjen beserta rombongan diajak mengunjungi komplek Makam Belanda Peneleh dan temuan arkeologi Sumur Jobong di Pandean. (Nanang).