Sinergi Mendag, Mentan, dan MenteriBUMN Dorong Ekspor Komoditas Pertanian

0
114
Dalam kegiatan ini juga diserahkan sertifikat kesehatan (Health Certificate) dan sertifikat fito sanitasi (Phytosanitary Certificate) kepada PT Sinar Indochem, PT Organic Hans Jaya, PT Cargill Indonesia, dan PT Yongbee Indonesia.

Surabaya NAWACITAPOST – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan, sinergi antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian BUMN sangat penting dalam mendorong peningkatan ekspor. Untuk itu, kerja sama semua pihak menjadi kunci utama dalam pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Mendag saat melakukan pelepasan ekspor bersama produk pertanian senilai Rp 140 miliar ke 12 negara di Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (12/3).

Adapun komoditas yang diekspor terdiri 34 jenis. Komoditas tersebut di antaranya adalahpentol bakso, sarang burung walet, pakan ternak, premik, cicak kering, lipan kering, asam amino hewan L-Lysine sulfate, pakan ternak, susu pasteurisasi, susu, kelapa bulat, mentega kakao, bubuk kakao, biji kopi, cengkeh, dan serat campuran (sillage) allformilk. Komoditas tersebut akan diekspor ke 12 negara tujuan, yaitu Amerika Serikat, Hongkong, Timor Leste, Jerman, Brunei Darussalam, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, Mesir, Singapura, Bangladesh.

Hadir pada kegiatan ini Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.”Kerja sama ini merupakan permulaan untuk memastikan Indonesia mempunyai eksportir baru sehingga ekonomi terus berkelanjutan di masa yang akan datang,” ujar Mendag.

Mendag menyampaikan bahwa Jawa Timur merupakan pusat perdagangan barang setengah jadi untuk Indonesia bagian timur. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan akan membuat Export Center di Surabaya dengan tujuan memastikan komoditas Indonesia dapat melakukan penetrasi ke pasar internasional.

Mendag menyampaikan, perdagangan menjadi salah satu yang terpenting dalam menggeliatkan ekonomi. “Dengan jumlah konsumsi Indonesia yang mencapai 59 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, kita harus menjaga konsumsi agar masyarakat dapat menggerakan industri dan ekspor meningkat,” tandasnya.

Mendag melanjutkan, Jawa Timur merupakan pusat perdagangan barang setengah jadi untuk Indonesia bagian timur. ” Oleh sebab itu, Kementerian Perdagangan akan membuat Export Center di Surabaya. Hal ini untuk memastikan komoditas Indonesia dapat melakukan penetrasi ke pasar internasional,” katanya.

Sementara itu, Mentan mengatakan sesuai arahan Presiden Joko Widodo, sinergi lintas Kementerian harus ditingkatkan. Hal ini sebagai langkah strategis dalam percepatan pemulihan ekonomi nasional, di tengah tantangan pandemi Covid-19.” Menghadapi pandemi ini dengan berbagai dampak yang ada, maka kerja sama antarsektor harus ditingkatkan. Hari ini kami datang untuk melepas ekspor. Bersama kita genjot pasar ekspor produk pertanian kita,” jelas Mentan.

Khofifah berharap, Export Center di Surabaya akan dapat segera diwujudkan sehingga proses petik olah kemas jual di Jawa Timur dapat pasar internasional. Hal ini akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya Jawa Timur.

Pada kegiatan ini juga diserahkan sertifikat kesehatan (Health certificate/HC) dan sertifikat fito sanitasi (Phytosanitary Certificate/PC) kepada eksportir oleh tiga Menteri.

Sertifikat tersebut diserahkan kepada PT Sinar Indochem (pakan ternak)sebanyak 60 ton senilai Rp300 juta ke Timor Leste, PT Organic Hans Jaya (sarang burung walet) sebanyak 494 kg senilai Rp9,9 miliar ke Tiongkok, PT Cargill Indonesia (bubuk dan mentega kakao) sebanyak 83,4 ton senilai Rp4,98 miliar ke Tiongkok, dan PT Yongbee Indonesia (pakan serat campuran) sebanyak 174,4 ton senilai Rp392 juta ke Korea Selatan.

Berdasarkan data Badan Karantina Pertanian, Kementan, secara nasional produk pertanian yang diekspor hingga Maret 2021 sebanyak 81,3 ribu ton dengani nilai mencapai Rp1,26 triliun. Komoditas tersebut terdiri dari tanaman pangan sebanyak 8,5 ribu ton senilai Rp125,8 miliar (9,95 persen), hortikultura sebanyak 487,9 ton senilai Rp47 miliar (3,71 persen), perkebunan sebanyak 72,2 ribu ton senilai nilai Rp997,3 miliar (78,9 persen), dan peternakan sebanyak 27,8 ribu ton senilai nilai Rp94 miliar (7,43 persen). (red/nawi)