Perusakan Eks LP Kalisosok, Nanang Purwono : Pengelola Abai, Kita Kecolongan

0
515
Kondisi terkini Cagar Budaya Eks-Penjara Kalisosok

Surabaya NAWACITAPOST – Sejak berhenti beroperasinya Penjara Kalisosok 32 tahun yang lalu, Eks Penjara yang dibangun pada tahun 1750 menjadi tidak terawat. Layaknya hutan belantara, bangunan Cagar Budaya tipe A ini jauh dari kata “Pelestarian” seperti yang diwajibkan Undang undang No. 11 tahun 2010.

Demi pelestariannya, sesuai UU diatas pasal 19 ayat 2, Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah sebenarnya dapat mengambil alih pengelolaannya.

Hal ini juga disampaikan Nanang Purwono pemerhati Cagar Budaya yang tergabung dalam komunitas Begandring Surabaya, Jumat (12/3/21)

Menurutnya, eks Penjara Kalisosok di jalan Kasuari nomor 7 ini merupakan aset yang sangat bersejarah, khususnya bagi kota Surabaya. Karena tidak hanya ngomong masalah kepahlawanan yang flash back (kembali, red) ke tahun 1945, tapi juga harus mundur ke belakang.

” Salah satu jejak tersebut adalah Penjara Kalisosok yang sejak awal mulai disetting oleh Daendels (Herman Williem Daendels yang saat itu menjabat gubernur jenderal Hindia Belanda ke-36) dipakai menjadi suatu komplek penjara,” ungkapnya saat napak tilas kedalam bangunan yang pernah menjadi hunian beberapa tokoh pejuang Indonesia ini.

Ketika saat ini sudah tidak menjadi penjara lagi, kata Nanang, sungguh disayangkan apabila tempat bersejarah ini terbengkalai dan rusak.

” Dari sini, bisa kita bayangkan peradaban waktu itu. Bagaimana seramnya penjara ini, dan bagaimana juga orang-orang yang kala itu dianggap sebagai lawan Pemerintah. Penjara ini juga menjadi bukti betapa sangat rapet (tertutup, red) nya, supaya para tawanan tidak bisa lepas dari tempat yang sudah disetting begitu kokohnya,” kata Nanang.

Nanang Purwono bersama rekannya di Komunitas Begandring Surabaya, saat melihat kondisi eks-Penjara Kalisosok, Jumat (12/3/21)

Melihat tempat yang rusak dan terbengkelai tersebut, Nanang sungguh menyayangkan. Lahan yang sebenarnya dapat membawa nilai edukasi dan sejarah sehingga generasi kedepan dapat melangkah lebih baik lagi.

” Jangan melihat sejarah hanya menjadi ‘Klangenan’ (kegemaran, hoby, red), tetapi juga menjadi modal kita lebih baik kedepan,” papar Nanang.

Tempat ini, lanjut Nanang bisa menjadi pembelajaran anak-anak supaya tidak berperilaku atau bertindak melanggar hukum yang berdampak akan menghadapi sebuah penjara.

Foto dari depan, eks-Penjara Kalisosok yang nampak jauh dari kata “Pelestarian”

Terkait pembobolan tembok belakang, Nanang meyakini memang ada kelalaian. Ini membuktikan bahwa si pengelola begitu abai. Apakah ini sudah diketahui atau tidak, tapi yang jelas ini dianggap kecolongan dan perusakan.

“Untung kawan-kawan pemerhati mengetahui hal itu, dan bisa masuk kesini. Harapan kita, perusakan atau pemanfaatan yang sifatnya ilegal ini dapat dicegah secara dini sehingga segera bisa dimanfaatkan secara publik,” katanya.

Nanang menegaskan siapapun wajib merasa memiliki,” Tidak hanya pengelola, pemerintah, investor, pemerhati, masyarakat. Mari kita bersama-sama urun rembuk, bagaimana Cagar Budaya ini menjadi Public Space (tempat umum, red) yang bisa dinikmati nilai-nilanya,” tukas mantan jurnalis ini. (BNW)