Bisakah Mencegah Hujan Dinihari Persisten dengan TMC?

0
179

JAKARTA, NAWACITAPOST – Banjir besar yang terjadi di Jadetabek pada 20 Februari 2021 lalu dipicu oleh hujan ekstrem (intensitas hingga 226 mm) yang terjadi pada dinihari. Mekanisme yang menyebabkan hujan dinihari ekstrem ini berkaitan dengan fenomena Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS), yaitu berupa penguatan angin permukaan dari utara yang memanjang dari Selat Karimata hingga utara Jakarta. Menggunakan Satelit Early Disaster Warning System (SADEWA), Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (TReAK), Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah memprediksi akan terjadinya fenomena tersebut.

Pada kasus yang terjadi 20 Februari tersebut, fenomena CENS memicu hujan ekstrem melalui dua cara. Pertama, menggeser sel konveksi yang terbentuk di tengah laut Jawa pada tengah malam menuju ke kawasan pesisir Jakarta pada dinihari melalui proses propagasi hujan. Kedua, menimbulkan konvergensi dengan angin baratan dari Selat Sunda sehingga konveksi darat yang terjadi di Lampung pada sore hari sebelumnya mengalami perpanjangan ke arah Selat Sunda dan menuju Jakarta pada dinihari.

Peneliti PSTA LAPAN Erma Yulihastin, menyampaikan bahwa berdasarkan pantauan terhadap data awan, hujan ekstrem dinihari tersebut tidak dibangkitkan oleh awan skala meso yang telah terbentuk sebelumnya di atas darat, melainkan oleh percepatan pertumbuhan awan yang terjadi di kawasan pesisir pada tengah malam-dinihari, seiring dengan kejadian hujan yang dimulai sejak tengah malam di kawasan Jakarta. Artinya, terdapat mekanisme yang mempercepat proses induksi pembentukan awan-awan baru dari hujan yang telah terjadi sebelumnya sehingga menghasilkan awan skala meso yang meliputi Jawa bagian barat. Proses ini dinamakan dengan cold pool.

Bisakah proses yang berkaitan dengan cold pool ini dicegah dengan melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pada sore hari sebelumnya di Lampung dan Selat Sunda untuk menghentikan perpanjangan hujan menuju Jakarta? Jawabnya adalah tidak bisa dan bahkan berbahaya, dengan beberapa alasan berikut.

(1) proses di atmosfer sangat acak dan menganut hukum chaos. Gangguan kecil di atmosfer pada suatu lokasi dapat menyebabkan perubahan fatal kondisi atmosfer di lokasi lain karena atmosfer saling terhubung melalui sirkulasi yang bersifat regional bahkan global;

(2) percepatan hujan dari awan konvektif justru dapat membangkitkan cold pool yang gerakannya acak ke segala arah dan dapat memicu aktivitas konvektif yang bersifat lebih meso atau meluas;

(3) operasi TMC yang dilakukan pada saat angin mengalami penguatan atau konvergensi dapat memicu pembentukan rainband (pita hujan) yang terjadi lebih cepat atau bahkan dapat memicu pembentukan garis badai (squall line) yang efeknya dapat menjangkau wilayah yang jauh hingga ratusan kilometer dari lokasi TMC.

Pada 21-22 Februari, pelemahan konveksi di barat Indonesia dipengaruhi oleh vorteks Borneo. Pada 23-26 Februari, siklon tropis secara dominan mengontrol konveksi skala meso yang tidak menimbulkan konvergensi skala luas dan persisten di darat melainkan di laut. Pertumbuhan awan di sekitar Lampung, Selat Sunda, dan Jakarta pada periode ini lebih banyak dikontrol oleh sistem skala besar yang berasal dari aktivitas siklon tropis. Dengan demikian, operasi TMC yang dilakukan selama periode tersebut menjadi tidak efektif.

Melihat hal tersebut, penting dilakukan kajian kembali terkait penggunaan TMC. Utamanya dikarenakan belum adanya bukti saintifik bahwa teknologi tersebut aman dan efektif. Selain itu dampak terhadap lingkungan belum diketahui dengan jelas, sehingga sebaiknya perlu dilakukan verifikasi komposisi kimia air hujan hasil operasi TMC. Negara-negara maju sendiri telah meninggalkan teknologi dan riset mengenai TMC (www.aaas.org/despite-past-failures-weather-modification-endures)

Hal paling penting untuk segera dilakukan adalam membangun kerjasama penelitian bencana hidrometeorologis. Melalui kerjasama tersebut, informasi dan data-data penting yang diperlukan untuk mitigasi bencana hidrometeorologis akan lebih mudah didapat, sehingga keputusan perlu atau tidaknya TMC dilakukan melalui pembahasan bersama-sama.

Keterangan:
Gambar 1. Pertumbuhan awan 20 Februari pukul 20.00 WIB (kiri); dan prediksi hujan dan angin 21 Februari pukul 02.00 WIB (kanan) berdasarkan prediksi SADEWA-LAPAN resolusi 1 km.

Gambar 2. Sama seperti Gambar 1, tetapi untuk 25 Februari pukul 19.00 WIB (kiri) dan hujan 26 Februari pukul 04.00 WIB (kanan).

Tentang Sadewa
SADEWA merupakan produk litbang LAPAN berupa aplikasi sistem peringatan dini atmosfer ekstrem berbasis satelit dan model atmosfer yang dikembangkan untuk mendukung riset atmosfer maupun aplikasinya oleh badan operasional terkait. Informasi resmi mengenai cuaca dapat diperoleh dari BMKG.

Penulis: Tim Reaksi dan Analisis Kebencanaan (TReAK), PSTA-LAPAN
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi
Koordinator Humas, Ir. Jasyanto, M. M. (